Media Kampung – 29 Maret 2026 | Enam peristiwa terbaru di Kalimantan Barat menjadi sorotan publik, mencakup protes anak terhadap kondisi jalan, tragedi anak berusia delapan tahun yang tenggelam di Sungai Kapuas, serta isu‑isu lain yang menambah beban pemerintah daerah.

Video viral yang menampilkan sekelompok anak di Kecamatan Sepauk memperlihatkan keluhan mereka atas jalan yang belum beraspal dan berkerikil, yang dianggap menghambat mobilitas warga.

Salah satu anak mengungkapkan, “Jalan kami lincah, lecut, lecut, karena gubernur kami kerja molor, tidur, ya, pingsan,” sambil menambahkan kritik bahwa pemimpin daerah tampak mengabaikan kebutuhan masyarakat.

Seorang remaja lain menambahkan, “Mikirin kaya sendiri, enggak mikirin masyarakat yang banyak,” dan menyarankan agar gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dipindahkan menjadi pemimpin di Kalimantan Barat selama dua bulan.

Netizen memberi respons beragam; sebagian mengapresiasi keberanian anak‑anak itu, sementara yang lain menyoroti kebutuhan perbaikan infrastruktur yang mendesak.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan akan meninjau kembali prioritas perbaikan jalan di wilayah Sepauk dan menyiapkan anggaran khusus untuk pengaspalan dalam tiga bulan ke depan.

Di samping protes jalan, banjir bandang melanda beberapa kecamatan pada akhir pekan lalu, menewaskan beberapa warga dan memaksa ribuan orang mengungsi ke tempat penampungan sementara.

Tim penanggulangan bencana daerah melaporkan bahwa curah hujan ekstrem memicu luapan sungai, sementara upaya penanganan logistik masih terganggu oleh akses jalan yang rusak.

Pemerintah daerah juga mengumumkan operasi pemberantasan kayu ilegal yang menargetkan lebih dari 600 ton kayu yang diduga diperdagangkan secara gelap di hutan Hulu Kapuas.

Operasi tersebut melibatkan Satpol PP, Polri, dan aparat kehutanan, serta menegaskan komitmen daerah untuk melindungi sumber daya alam dan menurunkan emisi karbon.

Sementara itu, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama Indonesia di wilayah Hulu Kapuas Babel‑Kalbar menjadi topik perdebatan, dengan sejumlah investor menyatakan minat namun menunggu kajian dampak lingkungan.

Di tengah berbagai permasalahan, kasus hilangnya bocah berusia delapan tahun di Desa Durian, Kapuas Barat, menarik perhatian luas setelah tiga hari pencarian tidak membuahkan hasil.

Anak itu terakhir kali terlihat bermain di tepi Sungai Kapuas pada tanggal 23 Maret, dan laporan hilang dilaporkan ke kantor polisi setempat pada keesokan harinya.

Tim SAR setempat, yang terdiri dari relawan, aparat kepolisian, dan petugas Puskesmas, melakukan pencarian intensif dengan perahu dan anjing pelacak, namun arus kuat menghambat upaya penyelamatan.

Pada hari ketiga pencarian, jenazah anak ditemukan mengapung di bagian tengah sungai, menandai berakhirnya upaya penyelamatan yang menguras tenaga dan sumber daya.

Keluarga korban menyampaikan rasa duka mendalam dan menyerukan peningkatan pengamanan serta edukasi keselamatan di wilayah sungai yang sering digunakan anak‑anak untuk bermain.

Pemerintah Kabupaten Kapuas Barat berjanji akan memperketat pengawasan area perairan serta memperbaiki fasilitas penangkaran dan pos jaga di sepanjang sungai.

Keseluruhan enam peristiwa ini menegaskan tantangan infrastruktur, keamanan, dan lingkungan yang dihadapi Kalimantan Barat, sekaligus menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari semua pihak terkait.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.