Media Kampung – 28 Maret 2026 | Dua anak harimau Bengal berusia delapan bulan, Huru dan Hara, meninggal di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) pada minggu terakhir Maret 2026. Penyebab kematian dinyatakan virus panleukopenia felina yang terdeteksi pada kedua individu.

Kematian itu menimbulkan sorotan dari lembaga legislatif daerah dan organisasi konservasi. Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, menilai insiden bukan sekadar kecelakaan melainkan konsekuensi dari konflik manajemen kebun binatang yang telah berlangsung lama.

Ono menekankan bahwa yayasan lama yang masih terlibat dalam pengelolaan, meski izinnya sudah dicabut oleh Kementerian Kehutanan, dapat menjadi faktor memperparah situasi. Ia mengingatkan pemerintah kota seharusnya memastikan standar kesejahteraan hewan sejak awal.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan permintaan maaf publik atas kematian kedua anak harimau dan mengakui kegagalan biosecurity di fasilitas tersebut. Ia menambahkan bahwa virus panleukopenia teridentifikasi sejak seminggu sebelum kematian dan penanganannya tidak dapat menghentikan penyebaran.

Farhan menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan protokol biosecurity, memperbaiki penataan kandang, dan mempercepat evaluasi tata kelola dalam satu bulan ke depan. Ia juga menyatakan niat menjalin kerja sama dengan kebun binatang lain seperti Ragunan dan Surabaya untuk program penangkaran.

Anggota DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya (Golkar), menilai bahwa meskipun virus menjadi penyebab medis, kelalaian pengelola dalam pemantauan kesehatan satwa menjadi isu utama. Ia menuntut evaluasi menyeluruh dan langkah konkret untuk mencegah kematian spesies terancam punah lainnya.

Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) juga mengkritisi penanganan sejak kelahiran Huru dan Hara. Koordinator FK3I, Dedi Kurniawan, menyatakan bahwa deteksi dini dan vaksinasi seharusnya dilakukan bila kebun binatang beroperasi dalam kondisi stabil.

BBKSDA Jawa Barat mengonfirmasi kematian Hara pada 22 Maret 2026 dan Huru pada 26 Maret 2026, keduanya terpapar virus yang diyakini diturunkan dari induk Shah Rukh Khan dan Jelita. Pihak BBKSDA belum memberikan rincian tambahan tentang penanganan pasca kematian.

Pada saat kejadian, Bandung Zoo masih dalam status penutupan sementara dan belum membuka kembali untuk pengunjung. Pihak manajemen menahan publik menunggu kepastian perbaikan fasilitas dan kepatuhan terhadap standar internasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kehutanan diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap kebun binatang yang berada di bawah pengelolaan bersama pemerintah daerah dan lembaga swasta. Kedua institusi belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tindak lanjut.

Konflik pengelolaan yang dimulai sejak perubahan otoritas pada tahun 2024 memperumit proses pengambilan keputusan. Beberapa pihak mengklaim bahwa koordinasi antara pemkot, BBKSDA, dan yayasan lama masih lemah.

Di tengah tekanan, tim veteriner internal kebun binatang melakukan serangkaian tes laboratorium yang mengidentifikasi virus panleukopenia. Hasil tersebut dikonfirmasi oleh laboratorium independen dan dijadikan dasar kebijakan karantina.

Evaluasi internal yang dijanjikan oleh Farhan mencakup audit keuangan, penilaian kompetensi staf, dan revisi SOP kebersihan kandang. Jika tidak ada perbaikan signifikan, DPRD berencana mengajukan usul perubahan status operasional kebun binatang.

Kematian Huru dan Hara menjadi peringatan bagi kebun binatang lain di Indonesia untuk memperkuat protokol kesehatan satwa, terutama bagi spesies yang termasuk dalam daftar merah IUCN. Organisasi konservasi menekankan pentingnya transparansi data kesehatan.

Meskipun tragedi ini menimbulkan kekecewaan luas, semua pihak menyepakati perlunya tindakan cepat untuk memulihkan kepercayaan publik dan melindungi populasi harimau Bengal yang sangat terbatas di tanah air.

Pemerintah kota berjanji melaporkan hasil evaluasi kepada DPRD pada kuartal pertama 2027, sekaligus menyiapkan rencana jangka panjang untuk penangkaran harimau Bengal yang berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan mengurangi risiko serupa dan memperkuat peran Bandung Zoo sebagai pusat konservasi regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.