Media Kampung – 28 Maret 2026 | BPBD Nganjuk melakukan penilaian terhadap pergerakan tanah di Dusun Kedung Bajul, Desa Gemenggeng, yang mengancam batas Sungai Bodor.

Retakan pada tepi sungai mencapai panjang 50 meter di satu titik, memicu kebutuhan penanganan darurat.

Kepala Koordinator BPBD Nganjuk, Sutomo, menyatakan koordinasi dengan pihak desa dan provinsi sedang berlangsung untuk mengamankan material darurat.

Material utama yang dipersiapkan meliputi karung pasir dan anyaman bambu (sesek) untuk memperkuat dinding sungai.

Intensitas curah hujan tinggi sejak 21 Maret 2026 di hulu Kecamatan Loceret dan Ngetos menyebabkan debit air Sungai Bodor melonjak.

Peningkatan debit air mempercepat erosi pada dinding sungai, mengakibatkan dua titik retakan kritis.

Titik pertama menunjukkan kerusakan sepanjang kira-kira 12 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 6 meter.

Titik kedua memiliki retakan panjang sekitar 50 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 6 meter.

Retakan ini berada berdekatan dengan jalan desa, menimbulkan risiko terputusnya akses transportasi warga.

Jika debit air kembali naik, proses penggerusan dapat meluas dan menghalangi jalur utama.

Sutomo mengimbau warga agar tetap waspada dan melaporkan retakan baru, terutama saat hujan deras melanda hulu.

Prioritas utama tim BPBD adalah melindungi keselamatan penduduk dan fasilitas umum di sekitar bantaran sungai.

Tim BPBD Nganjuk berkolaborasi dengan BPBD Jatim (AGISENA), pemerintah desa, serta anggota DPRD yang turun ke lapangan.

Koordinasi tersebut difokuskan pada mitigasi struktur untuk mencegah longsor susulan.

Pasokan sesek dan sandbag disiapkan sebagai tanggul darurat guna menahan aliran air.

Pemasangan sesek di area retakan diharapkan dapat menstabilkan tanah yang tergerus.

Karung pasir akan diletakkan secara berlapis untuk menambah ketebalan penahan pada dinding sungai.

BPBD juga melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi tanah dan debit air.

Data pemantauan akan dibagikan kepada masyarakat melalui kanal resmi BPBD.

Warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memperparah erosi, seperti menggali di sekitar tepi sungai.

Petugas lapangan mencatat bahwa curah hujan harian mencapai nilai tertinggi dalam 30 hari terakhir.

Analisis geoteknik menunjukkan tanah di daerah tersebut memiliki kecenderungan mobilitas tinggi ketika terpapar air berlebih.

Langkah pencegahan tambahan termasuk pembuatan saluran pembuangan kecil untuk mengalirkan air hujan ke area yang lebih aman.

Tim teknis juga menilai kebutuhan penanaman vegetasi penahan pada lereng untuk memperkuat struktur tanah.

Penggunaan anyaman bambu dipilih karena kemampuannya menyerap energi aliran air secara cepat.

Karung pasir dipilih karena ketersediaannya yang melimpah dan efektivitasnya dalam menahan tekanan air.

BPBD menegaskan bahwa semua tindakan bersifat sementara hingga perbaikan struktural permanen dapat dilaksanakan.

Pembangunan tanggul permanen akan melibatkan pemerintah provinsi dan kemungkinan dukungan dana pusat.

Proses perencanaan akan mempertimbangkan hasil survei geologi dan potensi risiko masa depan.

Sutomo menambahkan bahwa tim siap menanggapi situasi darurat tambahan yang mungkin muncul.

BPBD Nganjuk berkomitmen untuk terus memberikan informasi terkini kepada publik.

Warga diimbau untuk tetap mengikuti arahan resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Keselamatan komunitas menjadi fokus utama dalam penanganan tanah gerak ini.

Dengan langkah mitigasi yang diterapkan, diharapkan dampak erosi dapat diminimalisir hingga kondisi stabil kembali.

BPBD akan melakukan evaluasi pasca-bencana untuk menilai efektivitas tindakan yang telah diambil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.