Media Kampung – 25 Maret 2026 | Kementerian Dalam Negeri (KDM) menyalurkan bantuan sebesar Rp400.000 kepada warga yang menyapu koin di Jembatan Sewo, namun sejumlah penduduk di Sewoharjo tetap melanjutkan aktivitas tersebut karena mereka mengklaim dapat menghasilkan hingga Rp500.000 per hari.
Petugas gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan instansi terkait melakukan penertiban secara humanis di Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, untuk menjaga keselamatan publik dan kelancaran arus balik Lebaran 2026.
Aktivitas penyapu koin melibatkan warga yang mengumpulkan uang logam yang dilemparkan pengendara pada titik tertentu di jembatan, praktik yang telah berlangsung lama dan biasanya meningkat pada masa mudik.
Karena dilakukan di jalur lalu lintas padat, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kecelakaan serius baik bagi penyapu maupun pengendara.
Kapolsek Sukra, Iptu Andi Supriyatna, menjelaskan bahwa penertiban dilakukan rutin pada pagi hari ketika para penyapu mulai berdatangan, sambil memberikan edukasi tentang bahaya aktivitas di tengah kendaraan.
Ketika petugas tiba, beberapa penyapu koin berlarian membawa sapu lidi atau ranting, sementara yang lain tetap berbaris menunggu instruksi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menyalurkan bantuan Rp600.000 kepada 105 penyapu koin, namun para penerima mengaku bantuan tersebut tidak mengurangi kebutuhan mereka.
Seorang penyapu bernama Junaidi menyatakan, “Kami bisa dapat uang hingga setengah juta rupiah dalam sehari, jadi bantuan Rp400 ribu tidak cukup menutupi kebutuhan keluarga.”
Dengan pendapatan harian yang tinggi, sebagian warga menilai kompensasi Rp400.000 dari KDM tidak sebanding dengan potensi penghasilan mereka.
Dedi Mulyadi, tokoh yang sebelumnya mengusulkan bantuan Rp50.000 per hari, kini dipertanyakan efektivitasnya karena angka tersebut jauh di bawah realita lapangan.
Pemerintah mengombinasikan pendekatan penertiban dengan upaya persuasif, berharap warga dapat beralih ke pekerjaan yang lebih aman.
Data Badan Pengatur Jalan Tol menunjukkan bahwa volume kendaraan pada arus balik Lebaran 2026 diperkirakan naik 35% dibandingkan periode biasa.
Risiko kecelakaan di lokasi tersebut diperkirakan meningkat tiga kali lipat bila penyapu tetap berada di tengah alur lalu lintas.
Warga sekitar, seperti Ibu Siti, mengungkapkan keprihatinan mereka, “Kami takut ada yang terluka, terutama anak‑anak yang bermain di dekat jembatan.”
Juru bicara KDM, Rina Pratama, menegaskan bahwa bantuan Rp400.000 diberikan sebagai upaya transisi sementara, sambil mencari solusi jangka panjang.
Meskipun demikian, sebagian penyapu tetap berkeyakinan bahwa pendapatan koin lebih menguntungkan daripada pekerjaan alternatif yang ditawarkan.
Keluarga penyapu biasanya bergantung pada uang koin untuk memenuhi kebutuhan pokok, termasuk pendidikan dan kesehatan.
Di kalangan masyarakat, penyapu koin sering dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika mudik, meski secara resmi dilarang.
Pemerintah daerah berupaya menyalurkan pelatihan keterampilan dan pekerjaan informal lainnya, namun partisipasi masih rendah karena kurangnya kepercayaan.
Penertiban terbaru berhasil membubarkan sekitar 80 penyapu tanpa mencatat cedera atau kerusakan properti.
Setelah petugas meninggalkan lokasi, sejumlah penyapu kembali muncul pada sore hari, menunjukkan ketahanan pola lama.
Analisis kebijakan menunjukkan kesenjangan antara besaran kompensasi dan realita pendapatan harian warga, yang menjadi faktor utama kelangsungan aktivitas.
Para pakar transportasi menyarankan integrasi antara penegakan hukum, program bantuan sosial, dan sosialisasi risiko untuk mengurangi kecelakaan.
Dengan kondisi ini, pihak berwenang terus menimbang antara menjaga kelancaran arus lalu lintas dan memastikan kesejahteraan ekonomi warga yang bergantung pada koin.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan