Media Kampung – 25 Maret 2026 | Bripka Septian Eko Nugroho, anggota Satlantas Polres Pekalongan, tewas saat mengamankan arus mudik di Alun‑Alun Kajen pada malam 22 Maret 2026.

Ia mengalami pingsan setelah istirahat singkat di warung angkringan, kemudian dilarikan ke RSUD Kajen namun resusitasi tidak berhasil.

Tim medis melakukan RJP selama 30 menit dan menyuntikkan empat ampul epinefrin, namun nyawa tetap tidak dapat dipertahankan.

Penyebab kematian diduga serangan jantung yang dipicu kelelahan ekstrem selama penegakan lalu lintas di masa mudik.

Pemeriksaan jenazah menemukan banyak koyo pereda nyeri menempel pada tubuh, menguatkan dugaan bahwa petugas tetap bekerja meski kondisi fisik lemah.

Jenazah Bripka Septian dibawa ke Solo untuk pemakaman kedinasan di TPU Astonoloyo, Krembyongan, Banjarsari pada 23 Maret.

Upacara dimimpin Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf yang menyampaikan apresiasi atas dedikasi almarhum.

Rachmad menekankan pentingnya semangat pengabdian dan berharap roh almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Beberapa pejabat Polres Pekalongan, Polresta Surakarta, serta perwakilan Bhayangkari turut hadir dalam prosesi.

Kematian Septian terjadi bersamaan dengan insiden lain, Brigadir Fajar Permana dari Polda Metro Jaya yang juga gugur karena kelelahan pada 23 Maret.

Fajar, anggota Ditlantas, dilaporkan meninggal dini hari setelah menjalankan tugas intensif mengatur arus kendaraan di wilayah Jabodetabek.

Kedua kejadian menambah beban emosional pada institusi Polri yang menghadapi tekanan luar biasa selama periode mudik Lebaran.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa atas kematian polisi, menyoroti pentingnya kesejahteraan petugas di lapangan.

Dedi menegaskan bahwa kelelahan dapat berakibat fatal dan meminta pemerintah daerah meningkatkan dukungan logistik bagi aparat.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menghormati tugas polisi dengan tidak mengganggu proses pengaturan lalu lintas.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengaktifkan kebijakan peliburan angkot di beberapa titik rawan kemacetan untuk meringankan beban petugas.

Kebijakan tersebut mencakup area Lembang, Subang, Puncak Bogor, Cianjur, Sukabumi, Garut, dan Cirebon.

Upaya serupa diharapkan dapat diadopsi oleh Jawa Tengah, termasuk Pekalongan, untuk menurunkan risiko kelelahan di antara petugas.

Pihak Polri menyatakan akan meninjau kembali prosedur istirahat dan rotasi tugas selama masa mudik yang paling padat.

Analisis awal menunjukkan bahwa beban kerja berkelanjutan tanpa jeda cukup lama menjadi faktor utama kegagalan jantung.

Para ahli kesehatan kerja menyarankan penambahan tim medis lapangan dan penyediaan fasilitas istirahat yang memadai.

Keluarga Bripka Septian mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan rekan sejawat dan masyarakat.

Mereka berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi institusi untuk lebih memperhatikan kondisi fisik anggota.

Sementara itu, kepolisian tetap melanjutkan operasi pengamanan arus mudik dengan menambah pos kontrol dan patroli.

Data kepolisian mencatat bahwa lebih dari tiga juta kendaraan melintasi jalur utama di Jawa Tengah selama pekan pertama Lebaran.

Upaya pengaturan meliputi penggunaan aplikasi pemantauan lalu lintas dan koordinasi antar‑polda.

Masyarakat diimbau untuk mematuhi rambu, menggunakan transportasi umum, dan menghindari jam rawan macet.

Kejadian ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara tugas pengamanan publik dan kesehatan petugas.

Pemerintah dan kepolisian berjanji akan meningkatkan mekanisme pencegahan kelelahan agar tragedi serupa tidak terulang.

Dengan penghormatan kepada Bripka Septian dan Brigadir Fajar, aparat berkomitmen melanjutkan tugas menjaga kelancaran mudik secara aman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.