Media Kampung – 23 Maret 2026 | Diaspora Banyuwangi kembali diadakan pada Senin, 23 Maret 2026 di Pendopo Shaba Swagata Blambangan. Acara tahunan ini mempertemukan ribuan perantau asal Banyuwangi yang tersebar di dalam dan luar negeri.

Penyelenggaraan event ini diprakarsai oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan banyuwangi bersama Pemerintah Kabupaten. Tujuannya adalah memperkuat jaringan diaspora serta menggalang dukungan bagi pembangunan daerah.

Tema tahun ini, “Spirit Tandang Bareng Jadi Komitmen”, menekankan pentingnya solidaritas dan partisipasi aktif perantau dalam program pembangunan. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar peserta dapat menyumbangkan ide, modal, dan tenaga.

Pada pembukaan, Kepala Dinas Pariwisata, Budi Santoso, menyampaikan apresiasi kepada para perantau yang tetap menjaga identitas budaya Banyuwangi. Ia menegaskan bahwa kontribusi diaspora menjadi motor penggerak ekonomi kreatif daerah.

Selanjutnya, Ketua Forum Diaspora Banyuwangi, Rini Wibowo, menuturkan bahwa event ini menjadi ajang pertukaran informasi tentang peluang investasi di sektor pariwisata dan agribisnis. Ia mengajak peserta untuk meninjau potensi wisata alam dan kuliner tradisional.

Ratusan perantau dari Australia, Amerika, Eropa, serta wilayah Indonesia lainnya turut hadir secara langsung maupun melalui siaran daring. Partisipasi virtual memungkinkan keterlibatan yang lebih luas meski berada jauh dari pulau Jawa.

Sesi pameran produk lokal menampilkan kerajinan tenun ikat, kopi robusta, serta makanan khas Banyuwangi seperti rujak soto. Pengunjung dapat langsung membeli atau menandatangani kesepakatan distribusi dengan pelaku usaha.

Workshop tentang pemasaran digital dipandu oleh pakar e‑commerce yang menekankan strategi branding bagi UMKM Banyuwangi. Peserta diajarkan cara memanfaatkan media sosial untuk menembus pasar internasional.

Diskusi panel “Investasi Berkelanjutan” mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, dan investor diaspora. Mereka membahas skema pembiayaan hijau untuk proyek energi terbarukan di wilayah pegunungan.

Selama acara, tim relawan menyebarkan materi tentang pelestarian bahasa Osing serta tradisi tradisional. Upaya ini bertujuan menjaga warisan budaya agar tidak tergerus oleh modernisasi.

Hasil survei cepat menunjukkan bahwa lebih dari 70 % peserta bersedia menyalurkan dana atau pengetahuan ke proyek infrastruktur lokal. Beberapa inisiatif yang diusulkan meliputi pembangunan jalan desa dan peningkatan fasilitas kesehatan.

Pemerintah Kabupaten menyiapkan portal daring khusus untuk memfasilitasi kolaborasi antara diaspora dan pelaku usaha setempat. Portal ini akan menampilkan proyek yang membutuhkan dukungan serta mekanisme pelaporan transparan.

Keberhasilan acara ini juga tercermin dari peningkatan kunjungan situs resmi pariwisata Banyuwangi pada hari pelaksanaan. Statistik menunjukkan lonjakan 45 % dibandingkan hari biasa.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan pertunjukan seni tradisional Banyuwangi, menampilkan tari Gandrung dan musik gamelan. Penampilan tersebut mendapat sambutan antusias dari hadirin, menegaskan ikatan emosional yang kuat.

Pada sesi penutupan, Kepala Pemerintahan Kabupaten, Dr. H. Agus Wibowo, menegaskan komitmen untuk menjadikan diaspora mitra strategis dalam rencana pembangunan jangka panjang. Ia mengajak seluruh perantau untuk terus berperan aktif sebagai duta budaya.

Sebagai tindak lanjut, dibentuk tim kerja khusus yang akan menyiapkan laporan evaluasi dan rencana aksi tiga tahun ke depan. Tim ini terdiri dari perwakilan pemerintah, LSM, dan perwakilan komunitas diaspora.

Media lokal melaporkan bahwa acara ini berhasil mempererat rasa kebangsaan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Banyuwangi. Analisis menunjukkan dampak positif terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan UMKM.

Dengan semangat “Tandang Bareng”, diaspora Banyuwangi diharapkan terus menjadi kekuatan penggerak perubahan yang berkelanjutan bagi daerah asal. Keberlanjutan kolaborasi ini menjadi harapan bersama untuk masa depan yang lebih maju.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.