Media Kampung – 23 Maret 2026 | Ratusan warga berkumpul di halaman Masjid Agung Solo pada Jumat, 8 Juli, untuk menyaksikan pelaksanaan Gregreb Syawal, tradisi yang menandai berakhirnya Ramadan di Solo.
Acara dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan arak‑arakan tujuh gunungan yang diarak dari Keraton Kasunanan Solo mengelilingi lapangan utama.
Setiap gunungan berisi hasil pertanian dan hasil bumi, antara lain beras, jagung, buah‑buah lokal, serta makanan tradisional yang melambangkan kelimpahan.
Setelah doa selesai, gunungan dibuka dan dijatuhkan ke tengah kerumunan, menandai momen warga bebas mengambil sesaji sebagai simbol berbagi rezeki.
Suasana berubah menjadi heboh ketika masyarakat berbondong‑bondong mengambil makanan; para penonton melaporkan bahwa seluruh isi gunungan habis terdistribusi dalam hitungan menit.
“Saya sudah menunggu tradisi ini sejak kecil, dan rasanya luar biasa melihat semua orang saling bersaing secara ramah untuk mendapatkan sesaji,” ujar Budi Santoso, warga Solo yang ikut berpartisipasi.
Ketua Adat Keraton Solo, Pangeran Haryo Wiratmo, menegaskan bahwa Gregreb Syawal bukan sekadar pesta makanan, melainkan wujud rasa syukur atas keberkahan Ramadan dan ajakan mempererat persaudaraan.
Tradisi ini telah berakar sejak abad ke‑16, awalnya berkembang di Keraton Yogyakarta sebelum diadopsi oleh Kasunanan Surakarta dan kini menjadi identitas budaya Solo.
Gunungan dianggap simbol kemakmuran; setiap lapisan hasil bumi mencerminkan harapan masyarakat akan panen melimpah dan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Grebeg Syawal menambah warna pada rangkaian tradisi Lebaran unik di Indonesia, yang juga meliputi Meugang di Aceh dan Perang Topat di Lombok.
Meugang menekankan pemberian daging kepada keluarga dan tetangga, sementara Perang Topat menampilkan lemparan ketupat sebagai simbol persatuan antar umat beragama.
Kesemua tradisi menegaskan peran budaya lokal dalam memperkuat silaturahmi dan gotong‑royong pasca‑Ramadan.
Peningkatan partisipasi warga memberikan dorongan ekonomi bagi petani lokal, yang menyumbangkan hasil panen untuk dijadikan bahan gunungan.
Pihak panitia menyiapkan langkah keamanan, termasuk pengaturan alur masuk‑keluar, petugas medis, dan posko kebersihan untuk menjaga ketertiban.
Setelah selesai, sisa makanan yang tidak terambil disalurkan ke panti asuhan dan rumah singgah, memastikan tidak ada pemborosan.
Di samping Gregreb Syawal, tradisi Lebaran Ketupat di Jawa tetap eksis, di mana masyarakat berkumpul pada 8 Syawal untuk menikmati ketupat sebagai simbol penyucian diri.
Ketupat, dengan anyaman rapatnya, melambangkan hati yang bersih setelah menunaikan puasa, sekaligus menjadi media untuk meminta maaf dan mempererat ikatan keluarga.
Perbandingan antara gunungan dan ketupat menyoroti cara berbeda komunitas mengekspresikan rasa syukur: satu melalui persembahan hasil bumi, yang lain melalui simbol makanan bersih.
Pengamat budaya menilai Gregreb Syawal meneguhkan identitas Solo sebagai pusat tradisi yang memadukan nilai spiritual dan sosial dalam perayaan Idul Fitri.
Dengan antusiasme tinggi dan keberhasilan distribusi sesaji, Gregreb Syawal Solo kembali membuktikan kekuatan tradisi dalam menyatukan masyarakat pada momen kemenangan Ramadan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan