Media Kampung – 23 Maret 2026 | FX Rudy, yang dikenal sebagai pembawa acara televisi, hadir sebagai tamu dalam acara open house di Loji Gandrung, Solo pada hari Senin. Kehadirannya menandai pergeseran peran dari tuan rumah menjadi peserta dalam kegiatan budaya tersebut.
Acara tersebut digelar oleh Pemerintah Kota Solo bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, menargetkan partisipasi warga dari berbagai latar belakang agama dan komunitas. Selama dua jam, lebih dari seribu orang berdatangan, menandakan antusiasme tinggi masyarakat terhadap warisan seni tradisional.
Loji gandrung, yang menjadi pusat pertunjukan tari tradisional Jawa, dipenuhi penonton yang menyaksikan demonstrasi tari, musik gamelan, serta workshop singkat. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para seniman, mencoba gerakan dasar, dan mempelajari makna filosofis di balik tarian.
Walikota Palembang Ratu Dewa, yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Solo, turut memberikan sambutan singkat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar kota dalam melestarikan budaya Nusantara.
“Kami bangga dapat menyambut tokoh media seperti FX Rudy, yang dapat menyebarkan pesan kebudayaan kepada audiens lebih luas,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Solo, Siti Nurhaliza. Pernyataan tersebut menegaskan harapan pemerintah lokal untuk meningkatkan eksposur seni tradisional.
FX Rudy menyampaikan rasa kagum atas keragaman peserta yang hadir, mulai dari pelajar, pekerja, hingga tokoh keagamaan. Ia menambahkan, “Pengalaman menjadi tamu di sini memberi saya perspektif baru tentang bagaimana seni dapat menyatukan perbedaan.”
Acara ini juga menampilkan pameran foto sejarah Loji Gandrung, menelusuri evolusi arsitektur dan fungsi ruang pertunjukan sejak era kolonial. Pengunjung dapat melihat koleksi artefak, termasuk kostum tradisional dan instrumen musik kuno.
Selain pertunjukan, panitia menyediakan stan informasi tentang program pelatihan tari bagi pemuda. Program tersebut didanai oleh dana hibah kebudayaan daerah, menargetkan 200 peserta dalam tahun pertama.
Para pelaku usaha kuliner lokal juga berpartisipasi, menawarkan menu khas Solo seperti nasi liwet dan serabi. Penjualan makanan tersebut turut mendukung ekonomi mikro sekitar lokasi acara.
Keamanan dan protokol kesehatan tetap dijaga, dengan pos keamanan yang tersebar di tiap pintu masuk. Semua peserta diwajibkan menunjukkan kartu identitas dan mengikuti prosedur pemeriksaan suhu.
Data kehadiran menunjukkan bahwa peserta berasal dari lebih dari sepuluh agama, termasuk Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Hal ini mencerminkan semangat toleransi yang menjadi nilai inti acara.
Para tokoh agama yang hadir memberikan pernyataan dukungan, menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai jembatan dialog antar umat. Mereka menekankan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal yang melampaui perbedaan doktrin.
Selama acara, tim dokumentasi merekam momen-momen kunci untuk disiarkan di kanal televisi lokal dan media sosial. Rekaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pada edisi berikutnya.
Walikota Palembang Ratu Dewa menutup acara dengan mengajak semua pihak untuk terus memperkuat jaringan kebudayaan antar kota. Ia menambahkan, “Kolaborasi lintas wilayah akan memperkaya warisan budaya kita bersama.”
Para peserta meninggalkan Loji Gandrung dengan antusiasme tinggi, mengungkapkan keinginan untuk kembali pada program serupa. Beberapa di antaranya berjanji akan mengajak keluarga dan teman pada acara selanjutnya.
Pihak panitia menyatakan bahwa evaluasi pasca acara akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan. Fokus utama adalah memperluas akses bagi komunitas yang belum terjangkau sebelumnya.
Pengorganisasian open house ini menjadi contoh konkret upaya pemerintah daerah dalam mempromosikan kebudayaan melalui partisipasi publik. Keberhasilan acara ini diukur dari jumlah peserta dan tingkat kepuasan yang dilaporkan.
Ke depan, Pemerintah Kota Solo berencana menggelar serangkaian open house di lokasi budaya lainnya, termasuk Benteng Vastenburg dan Museum Batik. Jadwal tersebut akan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan.
Dengan keberhasilan acara ini, diharapkan konsep serupa dapat diadopsi oleh kota-kota lain, termasuk Palembang, untuk memperkuat jaringan kebudayaan nasional. Inisiatif ini sejalan dengan program kebudayaan berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah pusat.
Secara keseluruhan, open house Loji Gandrung berhasil menyatukan ribuan warga lintas agama dalam satu ruang budaya, sekaligus menampilkan peran media sebagai agen penyebar nilai kebudayaan. Keberlanjutan program ini menjadi harapan bersama untuk melestarikan warisan seni tradisional Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan