Media Kampung – 20 Maret 2026 | Polisi Resor Tasikmalaya Kota memberlakukan sistem satu arah (one way) pada Jalan Gentong Bawah selama 30 menit untuk mengurangi kemacetan pada H-2 Lebaran. Kebijakan ini diterapkan secara situasional guna memperlancar arus kendaraan dari Bandung menuju Tasikmalaya dan Jawa Tengah.

Antrean kendaraan pemudik terlihat mengular sepanjang beberapa kilometer, mulai dari roda dua, roda empat, hingga bus yang melaju lambat. Pada puncak arus, kepadatan mencapai sekitar empat kilometer dengan kecepatan kendaraan terhenti di beberapa titik.

Sistem satu arah mencakup sekitar enam kilometer, mulai dari Lingkar Gentong Bawah hingga Simpang Sukamantri. Durasi penerapan selama setengah jam dirancang agar antrean dapat terurai secara cepat tanpa menimbulkan penumpukan kembali.

Kasat Lantas Polres Tasikmalaya Kota, AKP Riki Kustiawan, menjelaskan bahwa keputusan diambil setelah memantau lonjakan volume kendaraan dalam rentang waktu singkat. “Kami melihat situasi di lapangan, one way akan diberlakukan berapa lama sesuai kebutuhan,” ujar Riki di Simpang Pamoyanan.

Setelah sistem satu arah aktif, kendaraan yang sebelumnya terhenti mulai bergerak kembali dengan alur yang lebih teratur. Petugas mencatat penurunan signifikan pada panjang antrean, sehingga arus mudik dapat kembali normal lebih cepat.

Gentong memang dikenal sebagai titik rawan kemacetan pada masa mudik Lebaran karena menjadi jalur penghubung utama antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Penumpukan kendaraan biasanya terjadi pada persimpangan utama dan area sekitar RM Gentong.

Langkah serupa juga diterapkan di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung, di mana one way diperpanjang hingga Simpang Susun Salatiga untuk mengurai volume tinggi. Kebijakan tersebut menunjukkan koordinasi lintas wilayah dalam mengatasi beban lalu lintas nasional.

Di GT Kalikangkung tercatat lebih dari 27.800 kendaraan melintas dalam sembilan jam, dengan puncak 3.500 kendaraan per jam pada rentang 10.00–14.00 WIB. Pengalaman tersebut menjadi acuan bagi Polri Tasikmalaya dalam menyesuaikan durasi dan jarak one way.

Petugas lalu lintas menyiapkan rambu khusus serta menempatkan regu di titik-titik kritis untuk mengarahkan kendaraan secara aman. Koordinasi dengan pihak kepolisian daerah memastikan bahwa perubahan alur tidak menimbulkan kebingungan di antara pemudik.

Selain mengurai kemacetan, polisi juga mengingatkan pengendara untuk tetap waspada terhadap kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang. Mereka menekankan pentingnya istirahat singkat dan mematuhi batas kecepatan demi keselamatan bersama.

Jika kondisi kembali memburuk, satu arah dapat diterapkan kembali atau diperpanjang sesuai evaluasi real‑time. Kebijakan ini bersifat dinamis, mengingat fluktuasi volume kendaraan yang dapat berubah secara cepat.

Penggunaan one way di Gentong berhasil mencegah potensi kemacetan yang dapat meluas hingga lebih dari satu jam. Hal ini membantu menjaga kelancaran distribusi barang dan penumpang selama masa mudik.

Setelah penerapan selesai, lalu lintas kembali normal dengan antrean yang lebih pendek dan kecepatan yang lebih stabil. Pengendara melaporkan bahwa perjalanan menjadi lebih nyaman dan waktu tempuh berkurang secara signifikan.

Polisi akan terus memantau situasi dan siap menyesuaikan strategi bila diperlukan, mengingat arus mudik biasanya tetap tinggi hingga hari Lebaran. Keputusan berbasis data dan observasi lapangan menjadi kunci efektivitas tindakan.

Antisipasi kepadatan lalu lintas selama periode Lebaran tetap menjadi prioritas utama aparat keamanan dan transportasi. Upaya kolaboratif antara Polri, Dinas Perhubungan, dan pihak terkait diharapkan dapat menjaga kelancaran arus mudik secara berkelanjutan.

Dengan penerapan satu arah yang tepat waktu, diharapkan Gentong tidak lagi menjadi bottleneck yang menghambat ribuan pemudik. Langkah ini menjadi contoh respons cepat dalam menghadapi tantangan mobilitas massal di Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.