Media Kampung – 17 Maret 2026 | Hujan deras yang melanda Nganjuk pada Senin 16 Maret sejak sore hingga malam kembali menimbulkan gangguan pada infrastruktur setempat. Dam Sungai Tanjungrejo, yang sekaligus berfungsi sebagai jembatan penghubung antar kecamatan di wilayah Loceret, mengalami penyumbatan material alami seperti ranting pohon dan bambu yang terbawa arus deras.
Hujan Deras Memicu Penumpukan Material
Aliran kuat di hulu sungai mengangkat puing‑puing vegetasi, kemudian menurunkan beban material tersebut ke daerah bendungan. Menurut Sudarsono, Babinsa Desa Tanjungrejo, penumpukan ini terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi di daerah sumber, sehingga material alami menumpuk di bagian penyaring dam.
Respons Pemerintah Daerah dan Tim Penanganan
Setelah menerima laporan, Tim Reaksi Cepat (URC) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk segera melakukan pembersihan. Menggunakan eskavator dan alat berat lainnya, petugas membersihkan tumpukan ranting serta bambu yang menghalangi aliran air. Cak Tris, warga sekitar, mengonfirmasi bahwa pembersihan serupa telah dilakukan sebelumnya dan menyatakan rasa lega atas upaya tersebut.
Masalah Berulang dan Upaya Pencegahan
Lokasi dam ini sudah dikenal sebagai titik penumpukan material sejak lama. Setiap musim hujan, volume puing‑puing yang terbawa meningkat, meningkatkan risiko penyumbatan pada struktur penyaring dan saluran aliran. Meskipun pembersihan rutin dilakukan, masalah ini tetap berulang karena karakteristik geografis daerah hulu yang mudah meluncurkan material ke hilir.
Pihak berwenang mengakui perlunya langkah preventif jangka panjang, termasuk pemasangan penangkap puing di titik masuk sungai, penataan vegetasi di daerah tangkapan air, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai.
Harapan Masyarakat
Masyarakat sekitar berharap upaya pencegahan dapat diimplementasikan secara berkelanjutan, sehingga beban pembersihan tidak terus-menerus menimpa warga setiap kali musim hujan tiba. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga teknis, dan penduduk lokal untuk menjaga kelancaran aliran air serta keamanan infrastruktur.
Dengan langkah-langkah yang terkoordinasi, diharapkan Dam Tanjungrejo tidak lagi menjadi titik rawan penumpukan material, sehingga fungsi sebagai penghubung antar kecamatan dapat tetap optimal tanpa gangguan yang berulang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








