Media Kampung – 11 Maret 2026 | Ratusan santri Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar Simo di Desa Sungelebak, Kecamatan Sukodadi, Lamongan pada Selasa sore (10/3/2026) melaksanakan aksi simbolis menguras genangan air di jalan utama Sukodadi‑Karanggeneng. Dengan gayung, timba plastik, bahkan ember, para santri menyiduk air banjir yang telah menggenangi jalan selama empat bulan terakhir, lalu membuangnya ke saluran air sekitar.
Motif Aksi dan Protes Damai
Koordinator aksi, Maulana Arif Hidayatulloh, menjelaskan bahwa aksi kerja bakti ini bukan sekadar gotong‑royong biasa, melainkan bentuk protes damai dan sindiran tajam terhadap lambannya penanganan banjir oleh pemerintah daerah. “Banjir ini sudah menggenang pesantren dan jalan ini selama lebih dari empat bulan, tapi belum juga bisa diatasi,” ujarnya kepada wartawan.
Santri menilai upaya pemerintah, termasuk program pompanisasi, belum memberikan perubahan signifikan di lapangan. “Selama ini pemerintah selalu menyampaikan sudah berusaha maksimal, tapi kenyataannya banjir di Lamongan belum juga surut, bahkan makin parah,” tambah Arif.
Situasi di Lapangan
Genangan air tidak hanya menghambat aktivitas warga dan transportasi, tetapi juga membuat permukaan jalan licin karena ditumbuhi lumut. Selama aksi, seorang wartawan yang meliput sempat terpeleset dan jatuh ke dalam genangan, meski tidak mengalami cedera serius.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Matholi'ul Anwar, Syaifulloh Abid (Gus Abid), menegaskan dampak genangan terhadap proses belajar mengajar. “Hari ini kami bersama para santri berniat membantu Pemerintah Kabupaten Lamongan dan Bapak Bupati dengan gerakan kerja bakti menguras banjir. Ini adalah bentuk aspirasi kami karena kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama,” ujarnya.
Tuntutan dan Harapan
Aksi tersebut diiringi spanduk berisi tulisan “Mohon Maaf Jalan Sedang Di Kuras” serta empat poin tuntutan utama kepada pihak berwenang:
- Pengambilan langkah teknis cepat untuk menyelesaikan persoalan banjir di jalan Sukodadi‑Karanggeneng.
- Prioritas pada lembaga pendidikan yang terdampak, khususnya PP Matholi'ul Anwar.
- Penerapan regulasi yang melarang kendaraan berat melintasi jalan yang masih tergenang.
- Penyusunan solusi jangka panjang yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Narto Widodo, tokoh masyarakat Karanggeneng, menambahkan bahwa genangan menghambat roda ekonomi daerah. “Dampaknya sangat signifikan terhadap roda ekonomi masyarakat. Apalagi ini merupakan akses jalan provinsi. Kami berharap ada tindakan tegas, seperti penutupan sementara bagi kendaraan bertonase besar agar tidak melintasi jalur ini selama banjir,” ujarnya.
Respon Pemerintah
Pejabat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lamongan belum memberikan pernyataan resmi pada saat penulisan. Namun, mereka diharapkan segera menyusun rencana aksi yang melibatkan pompa air, perbaikan drainase, serta koordinasi dengan pihak keamanan untuk mengevakuasi warga bila diperlukan.
Kesimpulan
Aksi santri yang menguras banjir dengan gayung dan timba menjadi sorotan publik atas ketidakmampuan pemerintah daerah menangani genangan air selama empat bulan. Dengan menggabungkan kerja bakti, sindiran, dan tuntutan konkret, para santri berharap banjir dapat diatasi sebelum Hari Raya tiba dan tidak lagi menjadi ancaman berulang setiap musim hujan.


Tinggalkan Balasan