MediaKampung.com, Banyuwangi – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyiapkan berbagai skenario operasional untuk menghadapi lonjakan arus balik Lebaran 2026 di lintasan Pelabuhan Ketapang – Pelabuhan Gilimanuk.

Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menegaskan bahwa seluruh langkah operasional disiapkan secara terukur, adaptif, dan mengutamakan keselamatan.

“Kami memastikan seluruh langkah operasional dilakukan secara terukur, adaptif, dan mengedepankan keselamatan sebagai prioritas utama,” ujarnya.

Seiring meningkatnya trafik penyeberangan, ASDP memperkuat langkah antisipatif agar arus balik tetap berjalan lancar, aman, dan terkendali. Dalam kondisi normal, operasional kapal di Selat Bali dipastikan berjalan seperti biasa. Namun jika terjadi lonjakan kendaraan atau cuaca ekstrem, skenario mitigasi akan langsung diterapkan.

Salah satu strategi utama adalah penerapan pola tiba bongkar berangkat (TBB) saat kondisi sangat padat. Skema ini diberlakukan ketika kapasitas kendaraan di pelabuhan mencapai ambang tertentu, yakni sekitar 972 unit mobil.

“Dengan skema TBB, kapal langsung kembali beroperasi tanpa memuat dari Gilimanuk, sehingga antrean di Ketapang bisa lebih cepat terurai,” jelas Yossi.

Selain itu, ASDP juga mengoptimalkan kapal berkapasitas besar seperti KMP Portlink VII dan KMP Liputan XII guna mempercepat proses bongkar muat kendaraan.

Untuk mendukung kelancaran arus, ASDP menyiapkan 55 unit kapal dengan pengoperasian harian sekitar 28 hingga 32 kapal, menyesuaikan kondisi lalu lintas mulai dari normal hingga sangat padat.

Di sisi darat, buffer zone juga disiapkan sebagai bagian dari manajemen lalu lintas terpadu. Lokasi seperti Grand Watudodol dan Bulusan mampu menampung sekitar 900 kendaraan pribadi dan bus.

Sementara kendaraan logistik diarahkan ke sejumlah titik seperti Terminal Sritanjung, PT Pusri, dan Pelindo Tanjung Wangi dengan kapasitas sekitar 600 unit kendaraan.

“Buffer zone ini menjadi kunci untuk menjaga distribusi kendaraan tetap terkendali sebelum masuk pelabuhan, sekaligus mitigasi saat kondisi darurat,” tambahnya.

ASDP juga mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dan menghindari puncak arus balik yang diperkirakan terjadi pada 26–29 Maret 2026.

Selain itu, pengguna jasa diwajibkan membeli tiket secara online melalui aplikasi Ferizy atau situs resmi, yang sudah dapat diakses hingga 60 hari sebelum keberangkatan.

Langkah ini diharapkan mampu menekan antrean di pelabuhan sekaligus meningkatkan efisiensi layanan penyeberangan selama arus balik Lebaran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.