Media Kampung – 20 Maret 2026 | Seorang sopir truk asal Surabaya terpaksa menunggu di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, karena penutupan lintas penyeberangan selama Hari Raya Nyepi.
Eko, pengemudi yang membawa muatan ke Denpasar, tiba sekitar pukul 23.30 WIB pada Rabu 18 Maret namun tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Pemerintah Provinsi Bali menutup jalur Ketapang‑Gilimanuk sejak pukul 17.00 WIB pada hari yang sama, sesuai Surat Edaran Gubernur.
Penutupan tersebut dijadwalkan berakhir pada Jumat 20 Maret pukul 05.00 WIB, meninggalkan ribuan pengendara di area terminal.
Eko menyatakan bahwa penundaan ini mengancam rencananya merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
“Biasanya saya selalu kumpul dengan keluarga, tapi tahun ini mungkin Lebaran di jalan,” kata Eko dengan nada khawatir.
Ia menambahkan bahwa informasi resmi dari petugas menyebutkan pembukaan kembali layanan feri pada pagi hari Jumat.
Berbagai sopir lain, termasuk pemilik truk dagang, mengaku mengalami situasi serupa dan harus menunggu selama lebih dari 30 jam.
Beberapa di antaranya melaporkan kondisi fasilitas penumpang yang terbatas, termasuk kurangnya tempat istirahat dan sanitasi.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa penutupan merupakan langkah preventif untuk menghormati tradisi Nyepi.
“Kami mengikuti instruksi gubernur demi menjaga ketertiban dan kesucian hari raya,” ujar Arief Eko.
Ia menegaskan bahwa layanan akan beroperasi kembali tepat waktu pada Jumat pagi, dengan jadwal feri pertama pukul 05.00 WIB.
Penutupan ini berdampak pada rantai pasokan barang antara Jawa dan Bali, terutama produk pertanian dan bahan baku industri.
Pengusaha logistik di Surabaya mengungkapkan kekhawatiran akan keterlambatan pengiriman yang dapat memengaruhi pasar akhir pekan.
“Kami harus menyesuaikan jadwal pengiriman, karena banyak klien menunggu barang hingga menjelang Idul Fitri,” kata seorang manajer logistik anonim.
Pihak pelabuhan berupaya menyediakan fasilitas makan ringan dan tempat istirahat sementara bagi para sopir yang menunggu.
Namun, sejumlah sopir melaporkan antrean panjang untuk akses ke area istirahat, menambah tingkat kelelahan.
Keputusan menutup lintas penyeberangan juga memicu perdebatan tentang dampak ekonomi regional selama periode libur keagamaan.
Beberapa aktivis lokal menilai kebijakan tersebut perlu peninjauan agar tidak mengganggu mobilitas penting, terutama menjelang hari raya besar.
Di sisi lain, tokoh keagamaan menekankan pentingnya menghormati Nyepi sebagai hari keheningan yang wajib dipatuhi.
“Nyepi adalah hari suci, semua aktivitas harus dihentikan termasuk transportasi antar pulau,” ujar seorang ulama setempat.
Meski begitu, otoritas Bali menegaskan bahwa penutupan bersifat sementara dan tidak mengubah jadwal operasional reguler.
Pada Jumat pagi, feri pertama berangkat tepat pukul 05.15 WIB, membawa lebih dari 150 kendaraan, termasuk truk milik Eko.
Eko melaporkan bahwa setelah menunggu lebih dari 30 jam, ia akhirnya dapat menyeberang dan melanjutkan perjalanan ke Denpasar.
Ia menambahkan bahwa meskipun perjalanan menjadi lebih lama, ia tetap berharap dapat merayakan Lebaran bersama keluarga pada akhir pekan.
Pengendara lain yang berhasil menyeberang melaporkan kondisi jalan di Bali masih padat, menambah tantangan bagi sopir yang kembali ke Jawa.
Petugas keamanan pelabuhan menyatakan bahwa semua prosedur keamanan tetap dijalankan meskipun terjadi penundaan.
Situasi ini menjadi contoh bagaimana kebijakan keagamaan dapat mempengaruhi sektor transportasi pada masa libur panjang.
Pihak terkait diharapkan dapat menyusun mekanisme penyesuaian operasional agar dampak serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Dalam rangka mengurangi beban sopir, beberapa perusahaan logistik mempertimbangkan penggunaan rute darat alternatif melalui Pelabuhan Gilimanuk‑Banyuwangi.
Namun, alternatif tersebut belum tentu lebih cepat mengingat kondisi lalu lintas yang juga padat pada musim mudik.
Secara keseluruhan, penutupan pelabuhan selama Nyepi menimbulkan tantangan logistik, namun tetap dilaksanakan demi menjaga tradisi.
Ke depannya, koordinasi antara otoritas transportasi dan keagamaan diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih seimbang.
Dengan demikian, sopir seperti Eko dapat menghindari penundaan panjang dan memastikan keberangkatan tepat waktu menjelang Lebaran.
Penutupan Pelabuhan Ketapang selama Nyepi menyebabkan ribuan sopir terpaksa menunggu, namun layanan kembali beroperasi pada Jumat pagi, memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan menjelang Lebaran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan