Banyuwangi – Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi kembali dipenuhi lautan jamaah pada Sabtu (7/2/2026). Ribuan orang dari berbagai daerah memadati kawasan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan untuk mengikuti peringatan Haul ke-14 KH Achmad Musayyidi, pendiri pesantren tersebut.

Sejak siang hingga malam, suasana pesantren terasa khidmat. Para kiai, tokoh masyarakat, santri, alumni, hingga warga sekitar duduk berbaur dalam satu majelis doa. Sejumlah ulama dari Banyuwangi maupun luar daerah tampak hadir, menambah kekhidmatan acara yang rutin digelar setiap tahun itu.

Tak hanya kalangan pesantren, unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Banyuwangi juga turut hadir. Di antaranya Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, serta Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan. Kehadiran lintas unsur ini mencerminkan kuatnya relasi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menyampaikan bahwa suara dan pandangan para kiai memiliki posisi penting dalam proses pengambilan kebijakan di Banyuwangi. Menurutnya, nasihat ulama bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga merepresentasikan aspirasi masyarakat luas.

“Apa yang disampaikan para kiai selalu kami jadikan bahan pertimbangan. Aspirasi itu kami terjemahkan dalam program yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah,” tutur Ipuk di hadapan jamaah.

Ia mencontohkan program perbaikan infrastruktur yang mulai digencarkan sejak awal 2026, khususnya penanganan jalan berlubang di sejumlah ruas utama. Puluhan hingga ratusan titik perbaikan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran daerah, namun diharapkan memberi dampak langsung bagi warga.

Haul ini juga menjadi momen refleksi perjalanan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan yang didirikan KH Achmad Musayyidi. Dari pesantren salaf di Karangdoro, lembaga ini berkembang pesat dengan memadukan pendidikan tradisional, modern, hingga internasional. Sejumlah lembaga pendidikan formal berdiri di bawah naungannya, termasuk perguruan tinggi dan pesantren dengan kurikulum global.

Pembina Yayasan Mabadiul Ihsan, Gus H. Abdullah Azwar Anas, menuturkan bahwa pengembangan pesantren tetap berpijak pada nilai dasar yang diwariskan pendiri. Penanaman akhlak, penguasaan ilmu agama, keterampilan, serta kepemimpinan menjadi fokus utama pendidikan santri.

Haul ke-14 ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang temu lintas generasi yang menjaga ingatan kolektif, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan peran pesantren dalam kehidupan sosial Banyuwangi.