Banyuwangi – Hamparan pasir Pantai Pancur di kawasan Taman Nasional Alas Purwo pagi itu tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan oleh wisatawan, melainkan barisan aparat, relawan, dan warga yang memunguti sampah kiriman laut satu per satu. Aktivitas ini menjadi gambaran nyata keseriusan Banyuwangi menata ulang wajah pesisirnya.

Kamis (5/2/2026), Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar karya bakti pembersihan Pantai Pancur sebagai tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia terkait pengendalian sampah, khususnya di wilayah pesisir.

Kegiatan ini melibatkan Kodim 0825/Banyuwangi, relawan lingkungan, serta masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Alas Purwo.

Pantai Pancur dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir yang kerap menerima limpahan sampah kiriman dari laut, terutama saat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Dalam karya bakti tersebut, peserta menyisir garis pantai dan area vegetasi pesisir.

Beragam jenis sampah berhasil dikumpulkan, mulai dari plastik sekali pakai, potongan kayu, hingga material lain yang berpotensi mencemari ekosistem pantai. Seluruh sampah kemudian diangkut menuju titik penampungan untuk ditangani lebih lanjut.

Di sela kegiatan, terlihat anggota TNI, aparatur pemerintah, dan warga bekerja berdampingan, menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal sekat institusi.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons langsung atas arahan Presiden agar pemerintah daerah lebih proaktif dalam mengendalikan persoalan sampah, khususnya di kawasan pesisir.

Menurutnya, menjaga kebersihan pantai bukan sekadar soal estetika, tetapi berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber daya laut.

“Sampah laut berdampak langsung pada ekosistem pesisir. Jika lingkungan terjaga, maka sektor perikanan dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir juga ikut terlindungi,” tutur Suryono.

Pantai Pancur dan kawasan Alas Purwo tidak hanya menjadi wilayah konservasi, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat sekitar yang bergantung pada laut. Sampah yang menumpuk berisiko merusak habitat biota laut serta mengganggu aktivitas nelayan.

Selain itu, kawasan ini juga menjadi destinasi wisata alam unggulan Banyuwangi. Kebersihan pantai menjadi faktor penting dalam menjaga citra pariwisata berkelanjutan.

Di titik inilah, karya bakti tersebut menjadi lebih dari sekadar aksi bersih-bersih. Ia menjadi pesan bahwa pengelolaan lingkungan pesisir harus dilakukan bersama, dari pemerintah hingga warga.

Suryono menilai keterlibatan TNI dan masyarakat dalam kegiatan ini mencerminkan pentingnya kerja kolektif dalam menangani persoalan lingkungan. Pemerintah daerah, kata dia, tidak bisa berjalan sendiri.

“Penanganan sampah harus menjadi budaya bersama. Sinergi lintas sektor seperti ini perlu terus diperkuat agar kepedulian lingkungan tumbuh dari bawah,” ujarnya.

Kegiatan di Pantai Pancur menjadi pengingat bahwa upaya menjaga alam Banyuwangi tidak berhenti pada kebijakan, tetapi harus hadir langsung di lapangan, menyentuh ruang hidup masyarakat pesisir.