Banyuwangi – Pukul enam pagi di sudut-sudut Kota Banyuwangi, deretan angkot berstiker khusus mulai bergerak. Bukan mencari penumpang umum, melainkan menjemput pelajar berseragam putih biru dan putih abu-abu. Di balik pemandangan rutin itu, tersimpan skema kebijakan yang membuat dua kepentingan berjalan beriringan: keselamatan pelajar dan keberlangsungan hidup sopir angkutan kota.

Di Kabupaten Banyuwangi, program angkutan pelajar gratis tak sekadar urusan transportasi, tetapi menjadi jaring pengaman ekonomi bagi angkot yang nyaris tergerus zaman.

Program Angkutan Pelajar Gratis diluncurkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sejak 2017 dan dikelola oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi. Sejak awal, program ini dirancang sebagai solusi berkelanjutan untuk wilayah dengan bentang geografis luas dan jumlah penduduk yang besar.

Kabupaten Banyuwangi, yang dikenal sebagai Bumi Blambangan, memiliki luas sekitar 3.592,9 kilometer persegi dengan populasi mendekati 1,8 juta jiwa. Kondisi ini menjadikan akses transportasi pelajar sebagai kebutuhan mendasar, terutama di kawasan perkotaan yang padat aktivitas.

Berbeda dengan skema subsidi konvensional, Banyuwangi memilih pendekatan sewa armada. Angkot yang biasanya melayani rute umum, pada jam sekolah dialihkan khusus untuk mengangkut pelajar secara gratis.

Setiap hari sekolah, sekitar 25 unit angkot dikerahkan melayani delapan rute utama yang menjangkau Kecamatan Banyuwangi, Glagah, Giri, hingga sebagian Kalipuro. Armada ini mudah dikenali melalui banner dan stiker bertuliskan Angkutan Pelajar Gratis.

Dalam skema ini, sopir tidak bergantung pada jumlah penumpang. Mereka menerima bayaran tetap dari pemerintah daerah, sekitar Rp150 ribu per hari untuk dua kali perjalanan utama.

“Dengan sistem sewa ini, sopir tidak lagi waswas soal setoran. Ada kepastian penghasilan setiap hari sekolah,” ungkap salah satu pengemudi angkot yang rutin terlibat program.

Program ini dirancang sederhana dan inklusif. Pelajar dari jenjang SD hingga SMA dapat langsung memanfaatkan layanan tanpa pendaftaran apa pun. Syaratnya hanya satu: mengenakan seragam sekolah.

Jam operasional disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Keberangkatan berlangsung pukul 05.30–07.00 WIB, sementara kepulangan dilayani antara pukul 11.00–14.30 WIB. Rata-rata, tersedia sekitar 46 perjalanan setiap hari sekolah dengan kapasitas melayani sedikitnya 368 pelajar per hari.

Untuk mendukung kelancaran, Dishub menyiapkan enam titik halte strategis. Pelajar bisa naik dari titik kumpul tertentu, terminal seperti Brawijaya dan Blambangan, atau langsung menunggu di sepanjang rute angkot.

Dampak program ini terasa di banyak sisi. Bagi orang tua, biaya transportasi harian anak berkurang signifikan. Bagi pelajar, perjalanan ke sekolah menjadi lebih aman dan tertib.

Di sisi lain, volume sepeda motor yang dikendarai pelajar ikut menurun. Hal ini berkontribusi pada pengurangan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama yang melibatkan anak di bawah umur atau belum memiliki SIM.

Bagi sopir angkot, program ini menjadi penyelamat di tengah persaingan transportasi modern. Keikutsertaan dalam angkutan pelajar gratis memastikan kendaraan tetap beroperasi dan penghasilan tetap mengalir.

Skema Angkutan Pelajar Gratis Banyuwangi menunjukkan bahwa kebijakan publik tak harus memilih satu kepentingan dan mengorbankan yang lain. Di kota ini, pelajar bisa berangkat sekolah dengan aman tanpa biaya, sementara sopir angkot tetap bekerja dengan penghasilan yang pasti.

Model ini menjadikan transportasi bukan sekadar layanan, melainkan alat pemberdayaan sosial dan ekonomi yang nyata.