Banyuwangi – Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Sabtu pagi, mendadak penuh emosi. Senyum, mata berkaca-kaca, hingga tawa kecil bercampur haru terlihat di wajah para pengemudi becak lansia yang hari itu pulang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa harapan baru.

Sebanyak 200 unit becak listrik resmi diserahkan kepada para tukang becak di Banyuwangi. Bantuan ini merupakan inisiatif langsung Presiden Prabowo Subianto, yang disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional dan difasilitasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Di antara para penerima bantuan, Misdi (88), warga Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, menjadi gambaran nyata beratnya hidup di usia senja. Selama 25 tahun terakhir, ia mengayuh becak untuk mengantar sayur dan hasil kebun warga, lalu mencari penumpang hingga ke wilayah Rogojampi.

Kondisi fisik yang melemah dan riwayat stroke ringan tak menghentikannya bekerja. Namun kini, beban itu terasa lebih ringan.

Ia bercerita, jalan menanjak kini bisa dilalui dengan bantuan tenaga listrik, sementara jalan datar tetap ia kayuh perlahan agar kaki tetap bergerak.

Cerita serupa datang dari Mislani (79), pengemudi becak asal Kelurahan Dadapan, Kecamatan Kabat. Sejak 1964, sejak masih bujang, ia setia menarik becak di kawasan Jalan Ahmad Yani.

Pendataan bantuan sempat ia ikuti tanpa banyak harapan. Namun, becak listrik benar-benar ia terima.

Baginya, bantuan ini bukan sekadar kendaraan, tapi penyelamat tenaga di usia lanjut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa bantuan ini bukan hanya meringankan pekerjaan harian, tetapi juga membuka peluang baru bagi para pengemudi becak lansia.

Ke depan, Pemkab Banyuwangi berencana melibatkan becak listrik dalam ekosistem pariwisata daerah, terutama di kawasan kota dan destinasi wisata.

Selain itu, program ASN yang diwajibkan menggunakan transportasi umum setiap Jumat dinilai bisa menjadi ruang tambahan pemanfaatan becak listrik sebagai moda ramah lingkungan.

Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional, Nanik S Deyang, menyebut setiap unit becak listrik bernilai sekitar Rp22 juta.

Ia menekankan agar bantuan tersebut dijaga, dirawat, dan tidak dialihkan ke pihak lain. Menurutnya, bantuan ini lahir dari kepedulian langsung Presiden terhadap para pengemudi becak yang selama ini luput dari perhatian.

GSN juga membuka peluang penambahan bantuan becak listrik di Banyuwangi pada tahap berikutnya, sekaligus mendorongnya menjadi salah satu instrumen pengentasan kemiskinan.

Usai penyerahan, Bupati Ipuk bersama jajaran Forkopimda dan perwakilan GSN turut menjajal becak listrik berkeliling kawasan Taman Sritanjung. Momen sederhana itu menjadi simbol perubahan: dari kayuhan berat menuju transportasi yang lebih manusiawi.

Bagi para tukang becak lansia Banyuwangi, bantuan ini bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang dihargainya jerih payah puluhan tahun di jalanan kota.