Harga kopi robusta di Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, terus menunjukkan tren penguatan seiring musim panen raya. Kenaikan harga dan produksi memberi dampak langsung terhadap perbaikan ekonomi petani kopi di lereng Gunung Ijen.
Hamparan kebun kopi rakyat mendominasi wilayah Desa Gombengsari. Dengan luas mencapai sekitar 700 hektare, kopi robusta menjadi komoditas utama yang ditanam warga, diselingi kopi ekselsa di sejumlah lahan.
Musim panen kopi berlangsung sejak Juli hingga September. Pada awal musim panen tahun lalu, harga kopi sempat berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Namun, seiring berjalannya waktu, harga berangsur naik dan kini kopi asalan dijual di rentang Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Sementara itu, kopi petik merah dengan kualitas lebih baik mencatat harga jauh lebih tinggi. Komoditas tersebut kini dipasarkan dengan harga yang menembus Rp100 ribu per kilogram, memberikan nilai tambah bagi petani yang menerapkan panen selektif.
Sekretaris Kelompok Tani Gombengsari, Abdurahman, mengatakan peningkatan harga turut diikuti kenaikan produksi. Menurutnya, hasil panen rata-rata petani meningkat hingga 20 persen dibandingkan periode sebelumnya.
โProduksi rata-rata naik sekitar 20 persen. Untuk satu hektare lahan, hasilnya bisa lebih dari satu ton,โ ujar Abdurahman, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan produksi tidak lepas dari keseriusan petani dalam merawat tanaman kopi. Harga yang membaik mendorong petani kembali aktif membersihkan kebun, melakukan pemupukan, serta memangkas cabang tanaman secara rutin.
Selain menjual biji kopi mentah, sebagian warga kini mulai mengembangkan pengolahan kopi sangrai dan bubuk. Produk olahan tersebut dipasarkan langsung kepada wisatawan yang berkunjung ke Gombengsari.
Sebagai desa wisata kopi di kawasan lereng Gunung Ijen, Gombengsari kerap menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kopi lokal menjadi salah satu produk unggulan yang banyak diburu sebagai oleh-oleh khas Banyuwangi.
Bagi masyarakat setempat, kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Tanaman tersebut telah menjadi penggerak ekonomi desa, sumber penghidupan, sekaligus identitas yang melekat kuat pada kehidupan warga Gombengsari.


















Tinggalkan Balasan