PT KAI Daop 9 Jember mencatat Banyuwangi menjadi kabupaten dengan pergerakan penumpang kereta api paling masif selama angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Lebih dari 207 ribu penumpang tercatat berangkat dan tiba di Banyuwangi, didorong tingginya aktivitas pariwisata dan bertambahnya layanan kereta api.
BANYUWANGI โ PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember mencatat Kabupaten Banyuwangi sebagai wilayah dengan pergerakan penumpang paling tinggi selama masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Sepanjang periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, tercatat 207.586 penumpang berangkat dan tiba melalui sejumlah stasiun di Banyuwangi. Angka tersebut hampir mencapai separuh dari total pergerakan penumpang di wilayah kerja Daop 9 Jember.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menyebut secara keseluruhan Daop 9 melayani sekitar 416 ribu penumpang selama periode Nataru.
โArtinya, hampir separuh pergerakan penumpang Daop 9 terpusat di Banyuwangi,โ ujar Cahyo.
Cahyo menjelaskan, terdapat empat stasiun di Banyuwangi yang mencatat tingkat mobilitas tertinggi selama masa libur panjang tersebut.
Stasiun Banyuwangi Kota menjadi yang paling sibuk dengan sekitar 62 ribu penumpang naik dan turun. Disusul Stasiun Ketapang sebanyak 53 ribu penumpang, Stasiun Kalisetail sekitar 39 ribu penumpang, dan Stasiun Rogojampi sebanyak 32 ribu penumpang.
โMenariknya, Stasiun Kalisetail yang tergolong stasiun kecil justru menunjukkan potensi luar biasa. Jumlah penumpangnya bahkan melampaui Stasiun Rogojampi,โ ungkapnya.
Menurut Cahyo, tingginya pergerakan penumpang kereta api menuju Banyuwangi tidak lepas dari sektor pariwisata yang terus berkembang.
โBanyuwangi memiliki daya tarik wisata yang kuat. Hal ini mendorong masyarakat memilih kereta api sebagai moda transportasi utama untuk mengakses Banyuwangi,โ jelasnya.
Untuk layanan bersubsidi atau PSO, kereta yang paling banyak digunakan masyarakat adalah KA Sri Tanjung dan KA Probowangi, yang memiliki relasi awal dan akhir di Banyuwangi.
Sementara pada layanan komersial jarak jauh, KA Blambangan Ekspres dan KA Wijaya Kusuma menjadi favorit penumpang selama masa Nataru.
Cahyo menambahkan, tingginya angka penumpang juga dipengaruhi banyaknya stasiun aktif dan bertambahnya frekuensi perjalanan kereta api menuju Banyuwangi.
Saat ini terdapat sekitar enam stasiun aktif yang melayani naik turun penumpang di Banyuwangi. Selain itu, terdapat sejumlah layanan tambahan seperti KA Ijen Ekspres, perpanjangan relasi KA Blambangan Ekspres, KA Mutiara Timur reguler, serta KA Mutiara Timur tambahan yang beroperasi fakultatif selama Nataru.
โSelama Nataru ada total 26 perjalanan kereta, terdiri dari 24 reguler dan 2 KA tambahan. Khusus yang melayani Banyuwangi, ada sekitar 22 perjalanan,โ paparnya.
Sekitar 80 persen perjalanan KA di Daop 9 Jember memiliki tujuan awal atau akhir di Banyuwangi, kecuali KA Ranggajati dan KA Pandalungan.
Melihat tren positif tersebut, KAI Daop 9 Jember tengah mengkaji penambahan relasi dan perjalanan kereta api baru dari dan menuju Banyuwangi. Pasalnya, pertumbuhan jumlah penumpang selama Nataru mencapai 11 persen, sementara pertumbuhan kapasitas tempat duduk hanya sekitar 5โ7 persen.
โMasih ada peluang pasar yang bisa kami tangkap untuk pengembangan layanan kereta api dari dan menuju Banyuwangi,โ kata Cahyo.
Dari sisi investasi, KAI juga telah melakukan penataan di Stasiun Ketapang dan Stasiun Banyuwangi Kota, serta melanjutkan penataan Stasiun Kalisetail yang saat ini masih berlangsung.

















Tinggalkan Balasan