Seorang penjaga sekolah di Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah videonya berlari sejauh 52 kilometer viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk nazar dan rasa syukur setelah ia resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Pria bernama Abdurrahman (45) atau akrab disapa Cak Dur, menempuh rute dari GOR Tawangalun Kota Banyuwangi hingga SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore, tempatnya mengabdi selama 17 tahun. Ia menyelesaikan lari tersebut dalam waktu sekitar tujuh jam di tengah terik matahari.

Kisah ini mencerminkan perjalanan panjang honorer daerah yang penuh keterbatasan, sekaligus menjadi potret keteguhan, rasa syukur, dan pengabdian aparatur di daerah.


BANYUWANGI – Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria berlari di bawah terik matahari menjadi viral dan menyita perhatian masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Pria tersebut diketahui bernama Abdurrahman (45), penjaga sekolah di SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore.

Dalam video yang beredar, Abdurrahman tampak berlari sejauh 52 kilometer dari GOR Tawangalun Kota Banyuwangi menuju sekolah tempatnya bekerja. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk menunaikan nazar usai dirinya resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

“Ini bentuk rasa syukur saya. Setelah 17 tahun mengabdi, akhirnya mendapat pengangkatan sebagai ASN dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi,” kata Abdurrahman saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).

Ia mengungkapkan, selama bertahun-tahun bekerja sebagai penjaga sekolah sejak 2008, penghasilannya sangat terbatas. Pada awal bekerja, ia hanya menerima gaji Rp150 ribu per bulan, lalu sempat naik menjadi Rp500 ribu sebelum mendapat tambahan insentif dari pemkab dalam dua tahun terakhir.

Pengangkatan sebagai PPPK Paruh Waktu, menurutnya, membawa perubahan signifikan bagi kondisi ekonomi keluarganya. Hal itulah yang mendorongnya menepati nazar pribadi sebagai wujud rasa syukur.

Abdurrahman memulai lari pada Sabtu (27/12/2025) pukul 09.30 WIB. Dengan hanya berbekal tas lari pinjaman, ia menyusuri jalur panjang di wilayah ujung timur Pulau Jawa dengan suhu panas yang cukup ekstrem.

Tantangan terberat, kata dia, dirasakan saat melintasi kawasan Sumbersari hingga Pandan, yang didominasi tanjakan dan turunan tajam. Rasa nyeri dan kram di kaki sempat muncul, namun ia tetap melanjutkan perjalanan.

“Yang paling berat di jalur naik turun itu. Sampai kram, tapi saya tahan,” ujarnya.

Sepanjang perjalanan, Abdurrahman mendapat dukungan dari warga yang menyemangatinya di tepi jalan. Ia juga mengatur strategi dengan beristirahat singkat setiap tiga kilometer serta mengambil jeda lebih lama saat waktu salat.

“Awalnya saya lari sendirian dari GOR sampai Gambor. Setelah itu ada teman pelari, Mas Sofyan Ali, yang ikut mengawal,” katanya.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar tujuh jam, Abdurrahman akhirnya tiba di SDN 3 Sepanjang, Glenmore, tempat ia selama ini mengabdi.

Diketahui, Abdurrahman memang memiliki hobi lari jarak jauh. Ia kerap mengikuti berbagai ajang lari di sejumlah daerah, termasuk maraton 42 kilometer di Surabaya. Pada Januari 2026, ia berencana kembali mengikuti sejumlah event lari di Banyuwangi, Malang, hingga Bali.

Di akhir keterangannya, Abdurrahman menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Banyuwangi dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani atas dukungan dan perhatian yang diberikan.

“Semoga dengan amanah ini saya bisa bekerja lebih baik dan bertanggung jawab dalam mengabdi kepada negara,” tuturnya.