Media Kampung – 21 Maret 2026 | Jumat 20 Maret 2026 menandai hari terakhir Ramadan 1447 Hijriah, ketika azan Maghrib menjadi panggilan untuk berbuka puasa di seluruh negeri. Suara adzan menandai berakhirnya sebulan penuh menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu.
Di wilayah Polewali Mandar, Sulawesi Barat, waktu berbuka puasa tercatat pada pukul 18:17 waktu setempat (WITA). Waktu ini diambil dari jadwal resmi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.
Di kota Palopo, Sulawesi Selatan, adzan Maghrib berkumandang pada pukul 18:13 WITA, menandai saat yang sama bagi umat setempat untuk menunaikan buka puasa. Jadwal tersebut disusun berdasarkan data Kemenag yang berlaku untuk seluruh wilayah.
Di ibu kota, Jakarta, azan Maghrib terdengar pada pukul 18:07 WIB, sedikit lebih awal dibandingkan daerah lain di Pulau Sumatra dan Jawa. Waktu tersebut menjadi acuan bagi jutaan penduduk yang menunggu momen berbuka.
Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat azan Maghrib pada pukul 17:53 WIB, menjadikannya satu dari yang paling awal di Pulau Jawa. Penduduk setempat biasanya menyiapkan hidangan tradisional untuk menyambut buka puasa.
Kota Banda Aceh di Pulau Sumatra menandai waktu berbuka pada pukul 18:53 WIB, menyesuaikan dengan letak geografis paling barat di Indonesia. Suara adzan menjadi sinyal bagi warga Aceh yang biasanya mengadakan buka bersama keluarga.
Di Maluku, khususnya Kota Ambon, azan Maghrib terdengar pada pukul 18:41 WIT, menandakan waktu berbuka bagi masyarakat setempat. Jadwal ini juga dirilis oleh Kementerian Agama melalui portal resmi.
Surabaya dan sekitarnya juga menerima jadwal adzan Maghrib yang terbit dari Kemenag, meski waktu spesifik tidak disebutkan dalam laporan, namun warga dapat mengakses detail melalui aplikasi resmi imsakiyah. Semua kota mengikuti standar yang sama untuk memastikan keakuratan.
Selain menandai akhir puasa, azan Maghrib memiliki dimensi spiritual yang diuraikan oleh Imam Al‑Ghazali dalam karya klasiknya. Ia membagi tingkat keutamaan puasa menjadi tiga lapisan, mulai dari menahan diri secara fisik hingga menahan hati dari semua keinginan duniawi.
Lapisan pertama mencakup mayoritas umat yang hanya menahan perut dari makan dan minum serta menahan dorongan syahwat. Ini dianggap sebagai puasa dasar yang wajib dilaksanakan oleh semua muslim.
Lapisan kedua menuntut penahanan diri lebih luas, meliputi pendengaran, penglihatan, lisan, serta tindakan fisik lainnya agar terhindar dari dosa. Tingkat ini menandai puasa yang lebih intensif dan mendalam.
Lapisan tertinggi, menurut Al‑Ghazali, adalah puasa hati yang menolak segala hasrat duniawi, memusatkan pikiran pada Allah, dan menjauhkan diri dari segala godaan batin. Puasa ini dianggap sebagai puncak spiritual yang paling istimewa.
Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahwa puasa tanpa kualitas rohaniah hanya menghasilkan rasa lapar dan dahaga semata. Hadits tersebut menekankan pentingnya menambah kualitas ibadah di atas sekadar menahan perut.
Kementerian Agama menegaskan bahwa jadwal adzan Maghrib yang dirilis bersifat resmi dan wajib dipatuhi oleh seluruh masjid, musholla, dan lembaga keagamaan. Setiap wilayah menerima penyesuaian waktu sesuai letak geografis masing‑masing.
Pengumuman resmi tersebut juga mengingatkan umat Islam untuk memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan memperbanyak shalat, membaca Al‑Qur’an, dan bersedekah. Kegiatan ini diharapkan memperkuat ikatan sosial dan spiritual sebelum memasuki hari raya Idul Fitri.
Berita ini menyajikan data waktu adzan Maghrib dalam bentuk tabel untuk memudahkan perbandingan antar kota.
| Kota | Waktu Maghrib |
|---|---|
| Polewali Mandar | 18:17 WITA |
| Palopo | 18:13 WITA |
| Jakarta | 18:07 WIB |
| Yogyakarta | 17:53 WIB |
| Banda Aceh | 18:53 WIB |
| Ambon | 18:41 WIT |
Menjelang Idul Fitri, umat Islam di seluruh Indonesia bersiap menyambut hari kemenangan dengan takbir dan doa. Azan Maghrib pada hari terakhir Ramadan menjadi simbol penutup ibadah puasa dan awal perayaan yang penuh suka cita.
Dengan jadwal yang terkoordinasi secara nasional, masyarakat dapat melaksanakan ibadah tepat waktu, memperkuat kebersamaan, dan menutup Ramadan dengan rasa syukur serta harapan akan keberkahan di tahun mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan