Media Kampung – 18 Maret 2026 | Bojonegoro kembali menampilkan warisan budaya khas menjelang akhir Ramadan, tepatnya pada malam ke‑29 yang dikenal dengan sebutan Malam Sanga. Pada malam tersebut dua kegiatan utama menjadi sorotan: penyalahan obor di sepanjang jalan kampung dan pelaksanaan akad nikah yang dipilih oleh pasangan muda. Kedua ritual tersebut mencerminkan harapan masyarakat untuk menyerap berkah Ramadan menjelang berakhirnya bulan suci.

Obor sebagai Simbol Cahaya Ramadan

Setiap Malam Sanga, warga Bojonegoro menyalakan obor‑obor di jalur kampung. Cahaya yang menyala melambangkan Ramadan sebagai bulan cahaya, ketika wahyu Al‑Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup. Budayawan lokal Ahmad Wahyu Rizkiawan menekankan bahwa nyala obor merupakan wujud rasa syukur sekaligus upaya “ngalap barokah”—mencari keberkahan dari cahaya spiritual yang dirasakan selama Ramadan.

Pernikahan Malam Sanga: Memilih Akhir Bulan Penuh Berkah

Tak hanya obor, malam ke‑29 Ramadan juga menjadi pilihan populer untuk melangsungkan pernikahan. Kepercayaan bahwa keberkahan terletak pada bagian akhir, serupa dengan kepercayaan bahwa suapan terakhir makanan mengandung barokah, membuat pasangan memilih malam itu untuk mengikat janji suci. Data Kementerian Agama Bojonegoro mencatat sebanyak 487 pasangan yang melangsungkan ijab kabul pada Malam Sanga tahun 2026, menegaskan popularitas tradisi ini.

Jejak Sejarah dan Literatur

Tradisi Malam Sanga bukan fenomena baru. Manuskrip abad ke‑19 karya ulama Sidi Abdurrohman Alfadangi, yang menulis Hikayat Fadhilatus Siyam pada tahun 1820, memuat metafora tentang bulan‑bulan menjelang Ramadan, menekankan cahaya dan berkah Ramadan yang paling kuat. Dalam risalah lain, Nikahul Khoir Wasyaril Syahri, Alfadangi juga menyoroti bahwa Ramadan bukan bulan yang tidak layak untuk pernikahan, melainkan waktu yang sarat dengan keberkahan. Kedua karya tersebut menunjukkan bahwa pemikiran tentang cahaya dan berkah Ramadan telah lama menjadi bagian dari wacana keagamaan di wilayah ini.

Makna Budaya dan Sosial

Secara keseluruhan, Malang Sanga di Bojonegoro mencerminkan cara masyarakat lokal memaknai akhir Ramadan sebagai puncak berkah, menggabungkan simbol cahaya, rasa syukur, dan harapan baru melalui pernikahan. Tradisi ini tetap relevan meski belum ada penelitian akademis yang memetakan asal‑usul pastinya, namun keberadaannya yang berkelanjutan menunjukkan nilai budaya yang kuat di antara generasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.