Khutbah Jumat Ramadan yang disampaikan Drs KH Achmad Hasanuddin, HR, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, mengajak umat Islam menjadikan bulan suci sebagai madrasah ketakwaan yang membentuk karakter dan memperkuat keimanan.
Dalam khutbahnya pada Jumat pekan kedua Ramadan, khatib mengingatkan bahwa puasa bukan semata-mata menahan lapar dan dahaga. Ia menekankan bahwa ibadah tersebut merupakan sarana pendidikan spiritual agar setiap Muslim mampu meningkatkan kualitas takwa kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa yang bertujuan membentuk ketakwaan. Menurutnya, ketakwaan menjadi bekal utama untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ia juga mengutip penjelasan ulama tafsir yang menerangkan bahwa keberhasilan orang bertakwa bermakna keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan kembali kemuliaan Ramadan sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad. Bulan suci ini, menurutnya, adalah bulan penuh keberkahan, saat pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu. Karena itu, ia mengajak jamaah memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal ibadah.
Khatib juga menguraikan hakikat puasa yang tidak berhenti pada aspek fisik. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengingatkan puasa sejati adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk. Artinya, pengendalian diri menjadi inti dari ibadah ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan makna takwa sebagaimana dikemukakan ulama tabi’in, yakni menjalankan ketaatan dengan kesadaran dan harapan akan rahmat Allah, serta meninggalkan maksiat karena takut terhadap azab-Nya. Dengan pemahaman itu, puasa Ramadan diharapkan mampu menempa pribadi Muslim menjadi muttaqin, yakni hamba yang konsisten dalam ketaatan.
Ia juga memaparkan tiga ciri orang bertakwa, yaitu menjaga lisan dari dusta dan ucapan keji, menjauhi pergaulan buruk, serta meninggalkan sebagian perkara yang halal demi menghindari yang haram. Ketiga hal tersebut dinilai sebagai indikator keberhasilan seseorang dalam menjadikan Ramadan sebagai madrasah ketakwaan.
Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan puasa sebagai benteng pertahanan diri dari hawa nafsu dan godaan setan. Puasa, sebagaimana disebut dalam hadis riwayat Thabrani, merupakan tameng bagi orang beriman.
Ia berharap seluruh ibadah yang dijalankan selama Ramadan diterima Allah SWT dan mampu mengantarkan umat Islam meraih ridha serta kemenangan yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat dan bertakwa.









Tinggalkan Balasan