Media Kampung – 31 Maret 2026 | PDIP mengungkap harapan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan menegakkan kembali arah politik luar negeri Indonesia sesuai amanat konstitusi.

Partai menilai kebijakan luar negeri harus berlandaskan pembukaan UUD 1945 yang menekankan kontribusi pada ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pernyataan itu muncul bersamaan dengan kunjungan Presiden ke Jepang, di mana ia menegaskan komitmen de‑eskalasi konflik global bersama Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menambahkan Indonesia siap menjadi fasilitator atau mediator bila diperlukan, memperkuat citra “bebas‑aktif” negara.

Kedua pemimpin menyoroti pentingnya kerja sama strategis Indonesia‑Jepang dalam menjaga stabilitas kawasan Asia‑Pasifik.

Sementara itu, pemerintah terus mengirim pasukan TNI ke misi perdamaian Perserikatan Bangsa‑Bangsa, melanjutkan tradisi yang telah ada sejak Pasukan Garuda 1957.

Undang‑Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang perubahan UU TNI menegaskan tugas utama TNI untuk berpartisipasi dalam operasi perdamaian dunia sesuai kebijakan luar negeri.

Keputusan Presiden masing‑masing mengatur jumlah personel, wilayah tugas, dan durasi operasi, menjadikan penempatan pasukan proses yang transparan dan sah.

Pada misi UNIFIL di Lebanon, tiga prajurit Indonesia tewas dan beberapa lainnya terluka, menegaskan risiko yang dihadapi dalam upaya kemanusiaan.

Kematian tersebut memicu sorotan publik, namun PDIP menilai pengorbanan itu sejalan dengan mandat konstitusional untuk menjaga perdamaian internasional.

Kritik juga muncul terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang dibentuk di Davos dan dipimpin oleh mantan Presiden Amerika Serikat.

Board tersebut menuntut kontribusi finansial melebihi satu miliar dolar AS, sementara tidak menyediakan tempat bagi wakil Palestina, menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi.

Beberapa pakar menilai keikutsertaan Indonesia dalam BoP dapat menjerat negara dalam dilema antara kepentingan strategis dengan prinsip kemanusiaan.

Presiden Prabowo, dalam wawancara Bloomberg, menyebut serangan AS‑Israel ke Iran “tidak rasional” tanpa mengutuk secara tegas, menimbulkan spekulasi tentang posisi politiknya.

PDIP berharap Prabowo dapat menegaskan kembali komitmen konstitusional, sekaligus menolak mekanisme yang dianggap mengorbankan nilai keadilan.

Di Tokyo, Prabowo juga mengumumkan target ambisius 100 gigawatt energi surya dalam tiga tahun ke depan, sebagai bagian dari transformasi energi hijau.

Kebijakan energi bersih tersebut dipandang sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah.

Pemerintah menargetkan peningkatan produksi panas bumi dan biodiesel, serta pengembangan bahan bakar etanol berbasis kelapa sawit.

Upaya diversifikasi energi ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menambah posisi tawar Indonesia dalam forum internasional.

Kombinasi kebijakan luar negeri berbasis konstitusi, partisipasi damai PBB, dan transisi energi hijau mencerminkan strategi komprehensif yang diusung pemerintah.

PDIP menekankan bahwa keberhasilan strategi ini bergantung pada konsistensi kebijakan dan dukungan seluruh elemen negara.

Analis politik menyatakan bahwa jika Prabowo dapat menyeimbangkan kepentingan strategis dengan prinsip konstitusional, Indonesia dapat memperkuat perannya sebagai negara “bebas‑aktif”.

Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mengelola tekanan dari forum multilateral yang mengedepankan kepentingan geopolitik besar.

Pemerintah berjanji akan terus meninjau keanggotaan pada BoP dan memastikan keputusan diambil atas dasar kepentingan nasional dan nilai konstitusi.

Pada akhirnya, harapan PDIP dan masyarakat Indonesia adalah kebijakan luar negeri yang transparan, berlandaskan konstitusi, dan mendukung perdamaian serta keberlanjutan global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.