Media Kampung – 30 Maret 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menyoroti program konversi motor bakar menjadi motor listrik seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Tenggara.

Ketegangan tersebut dipicu oleh persaingan energi antara negara-negara produsen bahan baku baterai dan kebijakan impor yang lebih ketat.

Kementerian Energi menegaskan bahwa diversifikasi sumber energi menjadi prioritas nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Direktur Biro Energi Terbarukan, Budi Santoso, menambahkan bahwa konversi motor dapat menurunkan konsumsi bahan bakar minyak secara signifikan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi BBM transportasi naik 4,2 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Jika tren ini berlanjut, pemerintah memperkirakan kebutuhan listrik tambahan mencapai 3.500 megawatt pada 2030.

Peningkatan permintaan listrik menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi bersih di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Analisis Lembaga Penelitian Energi mencatat bahwa harga nikel dan litium, komponen utama baterai, mengalami volatilitas tinggi.

Volatilitas tersebut dapat memperlambat adopsi motor listrik jika tidak diimbangi dengan kebijakan subsidi yang tepat.

Menanggapi hal itu, Menteri Perindustrian, Rini Hartati, menyatakan bahwa pemerintah akan memperluas insentif fiskal bagi produsen lokal.

Insentif mencakup pengurangan bea masuk komponen baterai serta fasilitas kredit lunak bagi usaha kecil menengah.

Selain itu, pemerintah berencana membangun jaringan pengisian cepat di kota-kota besar dan jalur transportasi utama.

Target pemasangan stasiun pengisian cepat mencapai 1.200 unit pada akhir tahun depan.

Pengembangan infrastruktur ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran konsumen tentang jangkauan kendaraan listrik.

Menurut Asosiasi Produsen Motor Indonesia, lebih dari 30 persen konsumen masih ragu beralih ke motor listrik karena biaya konversi yang tinggi.

Rata-rata biaya konversi saat ini berada di kisaran 12 hingga 15 juta rupiah, jauh di atas harga motor konvensional setara.

Untuk menurunkan biaya, Kementerian Perindustrian berkoordinasi dengan industri baterai guna meningkatkan kapasitas produksi domestik.

Langkah ini dipandang dapat menurunkan harga baterai hingga 20 persen dalam tiga tahun ke depan.

Namun, pakar ekonomi, Dr. Ahmad Rizal, memperingatkan bahwa kebijakan harus diimbangi dengan kontrol kualitas agar keselamatan pengguna terjamin.

Ia menekankan pentingnya standar nasional untuk komponen konversi serta sertifikasi teknisi.

Pemerintah telah membentuk tim kerja lintas kementerian untuk menyusun regulasi tersebut.

Tim kerja tersebut mencakup perwakilan Kementerian Energi, Perindustrian, Perhubungan, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Selain kebijakan domestik, Indonesia juga meninjau perjanjian perdagangan dengan negara produsen bahan baku baterai.

Negosiasi ini bertujuan mengamankan pasokan jangka panjang dan mengurangi risiko geopolitik yang dapat memengaruhi harga.

Jika berhasil, Indonesia dapat menjadi hub produksi motor listrik di kawasan, meningkatkan ekspor teknologi bersih.

Pengamat regional, Lestari Wibowo, mencatat bahwa negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand juga tengah mempercepat program serupa.

Persaingan ini dapat mendorong inovasi lebih cepat serta menurunkan biaya produksi secara keseluruhan.

Namun, Lestari menambahkan bahwa ketegangan di Selat Taiwan dapat mengganggu rantai pasokan semikonduktor penting bagi sistem kontrol motor listrik.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah berencana mengembangkan fasilitas produksi chip dalam negeri.

Proyek ini mendapat dukungan dana investasi sebesar 1,2 triliun rupiah dari Bappenas.

Secara keseluruhan, upaya konversi motor listrik dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Langkah ini sekaligus mendukung komitmen Indonesia pada perjanjian iklim Paris dengan mengurangi emisi sektor transportasi.

Dengan kebijakan yang terkoordinasi, diharapkan konsumen dapat merasakan manfaat ekonomi serta lingkungan yang lebih baik.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu tetap menjadi tantangan, namun pemerintah yakin program ini dapat menjadi pondasi masa depan energi bersih Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.