Media Kampung – 27 Maret 2026 | Hanya 36 persen warga Amerika yang menyatakan puas dengan kinerja Presiden Donald Trump, menjadikan tingkat persetujuan terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, sementara 62 persen menyatakan tidak puas.
Angka tersebut berasal dari survei Reuters/Ipsos yang dirilis 24 Maret 2026, menunjukkan penurunan tajam dari 40 persen pada survei minggu sebelumnya.
Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar yang terkait dengan konflik militer AS terhadap Iran serta penolakan luas publik terhadap kebijakan perang tersebut.
Pada awal masa jabatan, Trump mencatat persetujuan sekitar 47 persen, angka yang dianggap kuat untuk presiden baru.
Selama lebih dari setahun, popularitasnya terus menurun; agregat berbagai survei nasional kini menempatkan persetujuan di kisaran 36‑40 persen dan ketidakpuasan antara 56‑62 persen.
Kelompok pemilih independen serta isu‑isu kunci seperti ekonomi dan kebijakan luar negeri menunjukkan tingkat ketidakpuasan paling signifikan.
Kenaikan harga bahan bakar menambah beban biaya hidup, membuat banyak responden menilai kebijakan ekonomi pemerintahan sebagai penyebab utama ketidakpuasan.
Sebagai tambahan, dukungan publik terhadap serangan militer AS ke Iran menurun, menurut temuan Reuters/Ipsos.
Survei lain pada Maret 2026, seperti CBS News/YouGov (40 persen persetujuan) dan Economist/YouGov (38‑39 persen), menguatkan tren penurunan, meskipun polling partisan Rasmussen masih menunjukkan angka sedikit lebih tinggi.
Rating rendah menimbulkan tantangan berat bagi Partai Republik menjelang pemilu tengah masa jabatan November 2026, mengingat sejarah partai yang berkuasa biasanya kehilangan kursi ketika persetujuan presiden menurun.
Meski peluang pemakzulan masih kecil karena Partai Republik menguasai Kongres, pasar prediksi memperlihatkan sedikit kenaikan odds jika Demokrat berhasil merebut DPR.
Trump memenangkan pemilu 2024 dengan margin tipis berkat isu ekonomi dan imigrasi, namun narasi publik kini beralih ke kekecewaan atas dampak perang dan inflasi bahan bakar.
Analis memperingatkan bahwa penurunan berkelanjutan dapat memperdalam kesulitan Partai Republik, sementara kebijakan yang berhasil dapat menghentikan penurunan tersebut.
Gedung Putih mengumumkan rencana mengatasi kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan diplomasi, namun hasil konkret masih belum terlihat.
Menjelang kampanye midterm, kedua partai akan memantau rating Trump secara intensif, sementara pemilih menunggu tindakan nyata yang dapat mengembalikan kepercayaan.
Secara keseluruhan, persetujuan Trump jatuh ke level terendah karena kenaikan harga bahan bakar dan penolakan perang, menciptakan dinamika politik yang menantang menjelang pemilu 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan