Media Kampung – 22 Maret 2026 | Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menghadiri Salat Idul Fitri di Masjid Lakemba, Sydney pada 20 Maret 2026.

Kedatangan tersebut dimaksudkan memperkuat hubungan pemerintah dengan komunitas Muslim Australia.

Namun, kehadirannya memicu sorakan keras dari sebagian jamaah yang menilai sikap pemerintah terhadap konflik Israel‑Palestina tidak konsisten.

Demonstran menuduh Albanese mendukung kebijakan militer Israel sekaligus mengkritik penolakan hak Palestina.

Sorakan tersebut berlangsung selama sekitar 15 menit, menampilkan kata‑kata seperti “disgrace” dan “genocide supporters”.

Petugas masjid kemudian meminta jamaah tenang, menekankan bahwa Idul Fitri adalah hari sukacita.

Menteri Dalam Negeri Tony Burke yang turut hadir juga menjadi sasaran protes serupa.

Albanese menanggapi insiden dengan menyatakan bahwa situasi berhasil dikendalikan oleh keamanan masjid dan tidak menimbulkan kerusakan.

Ia menambahkan bahwa keberadaan beberapa penentang telah “ditangani” tanpa memperpanjang gangguan.

Sebagian kritik berasal dari persepsi bahwa Australia mengeluarkan pernyataan mengecam agresi Israel sekaligus menyatakan hak Israel untuk membela diri.

Pemerintah Australia memang menyuarakan keprihatinan atas serangan di Gaza, namun juga menegaskan dukungan terhadap hak pertahanan Israel.

Kebijakan ganda ini dianggap menimbulkan kebingungan di antara umat Muslim yang menuntut konsistensi kebijakan luar negeri.

Isu lain yang memicu kemarahan adalah larangan pemerintah terhadap organisasi Islam Hizb ut‑Tahrir beberapa minggu sebelumnya.

Hizb ut‑Tahrir telah diklasifikasikan sebagai kelompok kebencian setelah terlibat dalam serangan teroris di Pantai Bondi pada Desember 2025.

Serangan itu menewaskan sekitar 15 orang dan menimbulkan ketakutan luas di Sydney.

Keputusan melarang Hizb ut‑Tahrir dipandang oleh sebagian komunitas Muslim sebagai pembatasan kebebasan beragama.

Pemerintah menegaskan larangan tersebut berlandaskan ancaman keamanan nasional.

Reaksi di masjid mencerminkan ketegangan antara kebijakan keamanan dalam negeri dan harapan komunitas Muslim terhadap keadilan internasional.

Rekaman video yang beredar menunjukkan beberapa demonstran menuntut Albanese dan Burke keluar dari masjid.

Seorang petugas keamanan terlihat menahan seorang demonstran sebelum mengantarkannya keluar.

Albanese kemudian menyatakan acara tetap berjalan positif meski ada insiden.

Ia menekankan bahwa kehadirannya menunjukkan komitmen Australia untuk terhubung dengan semua lapisan masyarakat.

Menteri dalam negeri Burke menambahkan bahwa dialog terbuka tetap menjadi prioritas pemerintah.

Insiden ini mengingatkan kembali pada peran PM Australia dalam diplomasi multikultural.

Sydney memiliki populasi Muslim terbesar di Australia, dengan Masjid Lakemba menjadi salah satu pusat ibadah utama.

Kejadian ini juga memperlihatkan sensitivitas politik luar negeri Australia di tengah konflik Gaza yang berlarut.

Para pengamat menilai bahwa pemerintah tengah menyeimbangkan hubungan strategis dengan Israel dan kepedulian terhadap hak asasi Palestina.

Sementara itu, organisasi hak asasi manusia menilai respons pemerintah terhadap protes masih kurang memadai.

Mereka menyerukan dialog yang lebih inklusif dan kebijakan luar negeri yang lebih transparan.

Pada akhirnya, meskipun terjadi keributan singkat, acara Idul Fitri di Masjid Lakemba berlanjut tanpa gangguan lanjutan.

Pemerintah Australia menyatakan komitmen untuk terus mendengarkan aspirasi komunitas Muslim dalam kerangka kebijakan nasional.

Situasi ini mencerminkan tantangan demokrasi pluralistik dalam menanggapi isu internasional yang kompleks.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.