Media Kampung – 12 Maret 2026 | Rabu, 11 Maret 2026 – Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, melanjutkan rangkaian Safari Ramadan bersama jajaran pimpinan partai dengan mengunjungi sejumlah pondok pesantren di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungan kali ini tidak sekadar agenda politik, melainkan upaya mempererat silaturahmi dan mendapatkan nasihat serta doa dari para ulama, kiai, dan santri.

Silaturahmi di Pondok Pesantren Al‑Falah, Kebumen

Rom‑bongan PSI tiba di Pondok Pesantren Al‑Falah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada sore hari. Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali, kaesang bersama rombongan mendengarkan penjelasan sejarah pondok, serta berdiskusi tentang peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa.

Ahmad Ali menegaskan, “Kedatangan kami bukan agenda politik semata, melainkan minta nasihat dan masukan langsung dari para ulama mengenai kondisi bangsa, masyarakat, serta partai kami.” Ia menambahkan, “Kami ingin belajar dari sejarah perjuangan kiai dan ulama, yang selalu menjadi guru bangsa.”

Perjalanan ke Yogyakarta: Ponpes An‑Nur, Ponpes Minggir, dan Ponpes Krapyak

Setelah menuntaskan agenda di Kebumen, Kaesang dan tim melanjutkan ke Yogyakarta. Di Pondok Pesantren An‑Nur, Sewon, Bantul, mereka disambut oleh Kiai Yassin Nawawi serta pengasuh lainnya. Selama kunjungan, Kaesang didampingi Ketua DPD PSI DIY Sunaryanta dan kembali menegaskan bahwa “di ponpes tidak ada pembicaraan politik, melainkan saling mengisi spiritualitas.”

Di Sleman, tim PSI mengunjungi Pondok Pesantren Minggir, sementara di Bantul mereka melanjutkan ke Ponpes Krapyak. Di setiap tempat, para kiai menyampaikan pandangan mereka tentang tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan yang dihadapi Indonesia. Kaesang mencatat, “Masukan para kiai sangat berharga, terutama dalam menilai kebijakan partai yang berpihak pada rakyat.”

Janji Tidak Memanfaatkan Kiai sebagai Alat Politik

Selama rangkaian kunjungan, Ahmad Ali menegaskan komitmen PSI untuk tidak mempolitisasi tokoh agama. “Kami tidak akan menjadikan kiai sebagai alat politik, melainkan menjadikan mereka guru dan tempat belajar,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus menanggapi kritik publik yang menilai kunjungan politikus ke pesantren dapat mengaburkan batas antara agama dan politik.

Hadiah Layang‑Layang dari Santri Ponpes Al‑Falah

Suasana hangat semakin terasa ketika santri Pondok Pesantren Al‑Falah mempersembahkan sebuah layang‑layang bergambar wajah Kaesang. Layang‑layang berwarna merah dengan siluet wajahnya melambangkan “sesuatu yang disukai semua kalangan,” menurut penjelasan budayawan Rafi Ananda. Kaesang menanggapi hadiah tersebut dengan candaan, “Saya sedih, soalnya pernah putus,” lalu tertawa bersama para tamu dan santri.

Santri kemudian mendoakan Kaesang agar diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, “Amin, matur nuwun,” ujar mereka. Hadiah ini menjadi simbol persahabatan dan harapan agar kepemimpinan Kaesang dapat merangkul semua kalangan.

Masukan Kunci dari Para Kiai

  • Perlu peningkatan peran pendidikan moral di sekolah umum.
  • Penguatan ekonomi berbasis komunitas pesantren.
  • Pengawasan ketat terhadap praktik korupsi di tingkat lokal.
  • Pengembangan program sosial yang melibatkan santri sebagai relawan.

Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi PSI dalam menyusun kebijakan ke depan, khususnya terkait program sosial dan ekonomi yang pro‑rakyat.

Dengan menutup rangkaian Safari Ramadan, Kaesang menegaskan bahwa kunjungan ke pesantren bukan sekadar simbol, melainkan upaya nyata untuk menumbuhkan dialog konstruktif antara dunia politik dan agama. “Doa dan nasihat para ulama akan menguatkan langkah kami ke depan, demi kepentingan bangsa dan negara,” tuturnya.

Ke depan, PSI berencana melanjutkan kunjungan ke pesantren lain di seluruh Indonesia, menegaskan komitmen untuk menjalin hubungan yang berlandaskan silaturahmi, bukan politisasi.