Banyuwangi – Hujan disertai angin kencang yang datang tiba-tiba pada Sabtu (7/2/2026) sore meninggalkan dampak nyata bagi warga Banyuwangi. Sedikitnya 52 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan setelah diterjang angin puting beliung yang melanda sejumlah wilayah.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, bencana tersebut berdampak di dua lokasi berbeda, yakni Kecamatan Sempu serta Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari kategori ringan hingga berat.
Di Kecamatan Sempu, angin ribut menerjang tiga desa sekaligus, yakni Karangsari, Temuguruh, dan Temuasri. Puluhan kepala keluarga terdampak, termasuk sejumlah bangunan kandang ternak milik warga. Di Desa Temuguruh, dua rumah dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah hingga bagian dapurnya ambruk.
Sementara di wilayah pesisir Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, tiga rumah warga mengalami kerusakan, dengan satu di antaranya rusak berat pada bagian atap. Sebagian besar kerusakan di lokasi ini terjadi pada penutup atap yang tersapu angin kencang.
Tak hanya merusak bangunan, bencana hidrometeorologi tersebut juga sempat mengganggu jaringan listrik. Sebanyak sembilan rumah di Desa Tembokrejo dilaporkan mengalami pemadaman akibat jaringan listrik terputus. Namun kondisi tersebut segera ditangani oleh pihak PLN setelah menerima laporan dari BPBD.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Partana, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Sejak hari kejadian, BPBD bersama relawan, TNI, dan Polri langsung bergerak ke lokasi untuk membantu warga terdampak serta memastikan kebutuhan dasar terpenuhi.
Pada Sabtu malam, bantuan tahap awal berupa bahan pangan dan terpal telah disalurkan. BPBD juga tengah menyiapkan bantuan lanjutan sesuai hasil asesmen lapangan, seperti selimut, matras, kasur lipat, hingga paket kebutuhan balita bagi keluarga yang memiliki anak kecil.
Selain itu, pendataan kebutuhan material bangunan juga terus dilakukan. BPBD mencatat warga membutuhkan bahan seperti asbes, kayu, dan perlengkapan lain untuk mempercepat perbaikan rumah yang rusak. Hingga Minggu (8/2/2026), tim masih berada di lapangan mendampingi warga serta membantu proses pembersihan sisa puing.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bagi warga Banyuwangi akan potensi bencana hidrometeorologi, terutama di musim hujan dengan cuaca ekstrem yang datang tanpa tanda panjang.











Tinggalkan Balasan