Media Kampung – 17 Maret 2026 | Pembatasan aktivasi nomor rekening (norek) pada sistem pembayaran tunjangan profesi guru (TPG) menimbulkan kelangkaan dana bagi ribuan pendidik yang mengandalkan tunjangan tersebut untuk persiapan Lebaran 2026. Pemerintah mengumumkan bahwa kebijakan baru membatasi jumlah aktivasi norek per hari, menyebabkan antrian panjang dan penundaan pencairan.

Pembatasan Aktivasi Rekening

Sistem perbankan yang menangani TPG kini hanya mengizinkan aktivasi maksimum tiga ribu norek dalam satu sesi. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengurangi beban server dan menghindari potensi penipuan, namun dampaknya langsung terasa pada guru-guru negeri yang belum dapat mengaktifkan rekeningnya tepat waktu. Tanpa norek yang aktif, proses pencairan otomatis tidak dapat dijalankan.

Dampak pada Pencairan TPG Guru

Akibat pembatasan tersebut, lebih dari lima ribu guru melaporkan kendala dalam mengakses dana TPG yang biasanya diberikan menjelang bulan Ramadan. Banyak dari mereka menyatakan rencana persiapan Lebaran, seperti membeli bahan makanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga, terhambat. Beberapa guru bahkan mengajukan permohonan pencairan manual, namun proses verifikasi memakan waktu lama.

Serikat guru menilai kebijakan ini tidak mempertimbangkan kebutuhan mendesak pendidik yang sebagian besar masih mengandalkan tunjangan untuk menutupi biaya hidup keluarga. Mereka menuntut agar pemerintah segera melonggarkan batas aktivasi atau menyediakan jalur alternatif yang lebih cepat.

Wapres Gibran Boyong Anak Panti Asuhan Belanja Baju Lebaran

Sementara itu, di tengah kekhawatiran guru, Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, mengunjungi sebuah panti asuhan di Blok M Plaza, Jakarta, pada minggu lalu. Dalam aksi sosial yang disorot media, Gibran mengajak anak-anak panti untuk berbelanja pakaian lebaran secara bebas. Kegiatan berlangsung selama tiga jam, dengan anak-anak memilih busana sesuai selera masing‑masing.

Wapres menegaskan pentingnya memberi kebahagiaan kepada anak-anak kurang mampu menjelang hari raya. Ia juga mengajak para pebisnis di sekitar Blok M untuk turut serta mendukung program sosial serupa pada masa Ramadan mendatang.

Respons dan Harapan Menjelang Lebaran 2026

Kedua peristiwa ini menyoroti dinamika kebijakan keuangan publik pada periode menjelang Lebaran. Di satu sisi, kebijakan teknis perbankan menimbulkan kesulitan bagi guru, di sisi lain, aksi sosial pejabat tinggi menunjukkan kepedulian terhadap kelompok rentan. Pengamat ekonomi menilai bahwa pemerintah perlu menyeimbangkan kontrol sistem dengan mekanisme darurat untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak.

Menjelang hari raya, harapan utama tetap pada tersedianya dana yang cukup bagi semua lapisan masyarakat, terutama guru yang berperan penting dalam pendidikan. Jika kebijakan aktivasi norek dapat disesuaikan atau diberikan pengecualian khusus bagi guru, tekanan keuangan menjelang Lebaran dapat berkurang secara signifikan.

Dengan langkah-langkah adaptif, diharapkan tidak ada guru yang harus melewatkan perayaan Lebaran karena masalah administratif, sekaligus menjaga semangat gotong‑royong yang ditunjukkan oleh aksi sosial Wapres Gibran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.