Media Kampung – 11 Maret 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan nasional setelah paket menu yang berisi lele mentah dikirim ke SMA Negeri 2 Pamekasan, Madura. Kontroversi ini memicu perdebatan tentang standar keamanan pangan, prosedur distribusi, serta peran institusi pemerintah dalam menjamin gizi anak sekolah.
Latar Belakang Program MBG
MBG merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui asupan gizi seimbang bagi pelajar dari PAUD hingga SMA. Setiap paket MBG biasanya mencakup sumber protein, karbohidrat, lemak, serta vitamin dan mineral yang sesuai dengan pedoman gizi nasional.
Kontroversi Lele Mentah di SMA Negeri 2 Pamekasan
Pada 9–11 Maret 2026, paket MBG yang dikirim oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamekasan berisi satu ekor lele yang masih mentah, dua potong tempe, dua potong tahu, serta komponen lain yang tidak terlihat dalam video viral. Kepala SMA Negeri 2, Moh Arifin, menolak paket tersebut dengan alasan lele mentah dapat membusuk sebelum siswa membawanya pulang, berpotensi mencemari makanan lain dalam wadah yang sama.
Video penolakan tersebut tersebar luas di media sosial, menimbulkan pertanyaan apakah BGN memperbolehkan distribusi ikan hidup atau mentah dalam program yang dijanjikan aman dan bergizi.
Klarifikasi Badan Gizi Nasional
Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa lele yang dikirim sebenarnya adalah lele yang telah dimarinasi, bukan lele hidup. Proses marinasi bertujuan memperpanjang daya tahan protein selama satu hari sehingga siswa dapat menggoreng lele tersebut di rumah saat buka puasa atau sahur.
“Kalau disuguhkan yang matang takutnya kan dingin kalau dibawa pulang. Kalau dimarinasi bisa digoreng saat buka atau sahur,” kata Nanik dalam wawancara dengan detikNews pada 11 Maret 2026.
Menurut laporan lapangan, paket lengkap mencakup lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, dan buah naga. Video yang beredar hanya menampilkan sebagian karena pihak sekolah menolak membuka kendaraan distribusi.
Reaksi Politisi dan Ahli Gizi
- Guntur Romli (PDIP): Mengkritik keras penyajian lele mentah dan menantang pimpinan BGN untuk mencicipi langsung menu tersebut, menyebutnya “lele mentah yang masih berkumis”.
- Fikri Kuttawakil (Ahli Gizi SPPG Pamekasan): Menegaskan bahwa marinasi menjaga kandungan gizi dan protein, serta memungkinkan lele bertahan hingga satu hari.
Komentar politikus menambah tekanan pada BGN untuk memastikan standar keamanan pangan tidak hanya terpenuhi di dokumen, melainkan juga terwujud dalam praktik lapangan.
Langkah Selanjutnya
BGN berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh atas prosedur distribusi MBG di Pamekasan. Koordinasi antara BGN, SPPG, dan dinas pendidikan daerah akan diperkuat untuk menghindari kesalahpahaman serupa di masa mendatang. Selain itu, BGN menegaskan bahwa setiap paket MBG akan terus dipantau kualitasnya, termasuk pemeriksaan suhu, kebersihan, dan keutuhan kemasan sebelum distribusi.
Para pemangku kepentingan juga diharapkan meningkatkan sosialisasi kepada sekolah dan orang tua tentang cara menyimpan dan mengolah lele marinasi secara aman di rumah, guna meminimalkan risiko kontaminasi makanan.
Dengan klarifikasi resmi dan langkah perbaikan yang dijanjikan, diharapkan kontroversi ini dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh program gizi nasional, memastikan bahwa tujuan utama—menyediakan makanan bergizi dan aman bagi siswa—tetap tercapai.


Tinggalkan Balasan