Banyuwangi – Aroma kue yang baru keluar dari oven menyebar dari ruang praktik Tata Boga SMK Nurut Taqwa Songgon, Rabu (28/1/2026). Bagi warga sekitar, aktivitas itu bukan sekadar praktik sekolah. Di balik adonan dan hiasan kue tart, ada proses belajar serius yang menyiapkan siswa menghadapi dunia kerja dan usaha kuliner.

Praktikum pembuatan bakery kue tart digelar sebagai bagian dari pembelajaran produktif siswa Program Keahlian Tata Boga. Seluruh proses dikerjakan langsung oleh siswa di Laboratorium Ruang Praktik Tata Boga sekolah, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, memanggang, hingga teknik menghias kue agar tampil menarik dan bernilai jual.

Praktikum Siswa Tata Boga SMK Nurut Taqwa Songgon, Banyuwangi.

Di setiap tahap, siswa dilatih mengikuti standar kerja dapur yang rapi dan terukur. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga ketepatan waktu, kebersihan, dan kerja tim. Di titik inilah, praktik sederhana berubah menjadi simulasi dunia industri.

Kepala SMK Nurut Taqwa Songgon, Achmad Nasir, menjelaskan bahwa praktikum menjadi sarana penting membentuk karakter dan kompetensi siswa. Menurutnya, dapur praktik adalah ruang belajar kehidupan kerja.

Ia menilai kegiatan seperti ini melatih disiplin, tanggung jawab, serta kebiasaan bekerja sama. Keterampilan yang diasah sejak sekolah diharapkan menjadi bekal nyata, baik untuk masuk industri kuliner maupun merintis usaha mandiri setelah lulus.

Hasil praktikum menunjukkan kualitas yang menggembirakan. Kue tart yang dihasilkan memiliki tekstur lembut, rasa seimbang, dan dekorasi variatif. Beberapa produk bahkan dinilai sudah layak dipasarkan.

Bagi siswa, pengalaman ini menumbuhkan kepercayaan diri dan jiwa kewirausahaan. Bagi lingkungan sekitar Songgon, sekolah kejuruan seperti ini menjadi harapan lahirnya pelaku UMKM baru di sektor kuliner lokal.

Di wilayah Banyuwangi, pendidikan vokasi terus didorong agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Praktikum Tata Boga di SMK Nurut Taqwa Songgon menjadi contoh bagaimana sekolah tidak hanya mengajar teori, tetapi menghadirkan pengalaman kerja nyata sejak dini.

Menjelang akhir kegiatan, dapur sekolah kembali senyap. Namun keterampilan yang tertanam hari itu akan terus hidup, dibawa siswa ke dunia yang lebih luas, entah ke industri, atau ke usaha kecil yang tumbuh dari rumah mereka sendiri.