Guru honorer NTT bernama Agusthinus Nitbani telah mengabdikan diri sebagai pendidik selama lebih dari dua dekade di wilayah terpencil Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hingga kini, ia tetap menjalani profesi tersebut meski harus bertahan dengan gaji Rp 223.000 per bulan serta akses jalan yang rusak parah menuju sekolah tempatnya mengajar.

Agusthinus, yang kini berusia 52 tahun, sehari-hari mengajar di SD Negeri Batu Esa, Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat. Seusai mengajar pada Selasa (27/01/2026), ia kembali menempuh perjalanan pulang menggunakan sepeda motor Suzuki Smash keluaran lama yang kerap mogok di jalan. Jalan menuju sekolah dipenuhi lubang, bebatuan, serta kubangan air yang licin, terutama saat musim hujan.

Kondisi tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas Agusthinus sejak lama. Saat hujan turun dan motornya tak mampu melanjutkan perjalanan, ia terpaksa berjalan kaki, menumpang kendaraan yang melintas, atau menitipkan motornya di rumah kerabat yang berada dekat jalur pintas menuju sekolah.

SD Negeri Batu Esa sendiri berdiri di wilayah yang sebelumnya nyaris tidak tersentuh pendidikan formal. Ketika sekolah itu dirintis pada 2009, tidak ada guru berstatus pegawai negeri yang bersedia ditempatkan di lokasi tersebut karena akses yang sulit. Agusthinus kemudian menyatakan kesediaannya untuk membuka dan mengajar di sekolah tersebut, dengan keyakinan bahwa masyarakat setempat akan menerima kehadiran pendidikan jika dijalankan dengan baik.

Pengabdiannya sebagai pendidik dimulai sejak 2002 di SD Inpres Sumlili sebagai tenaga sukarela. Pada masa awal, ia mengajar tanpa gaji tetap dan hanya menerima imbalan ala kadarnya. Beberapa tahun kemudian, ia memperoleh surat keputusan dari komite sekolah dengan honor yang masih sangat terbatas. Hingga kini, statusnya tidak pernah berubah dan tetap sebagai guru honorer.

Meskipun telah menyelesaikan pendidikan Sarjana PGSD pada 2014, kondisi kesejahteraan Agusthinus tidak banyak berubah. Gaji tertinggi yang pernah diterimanya terjadi pada 2023 hingga 2024 sebesar Rp 600.000 per bulan yang bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, pada semester pertama 2025, honor tersebut dipotong sekitar 20 persen sehingga kini ia hanya menerima Rp 223.000 per bulan.

Dengan penghasilan tersebut, Agusthinus harus mencukupi kebutuhan keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah. Untuk menambah pemasukan, ia kerap bekerja membersihkan kebun milik tetangga atau kerabat dengan upah Rp 20.000 sekali kerja.

Di tengah keterbatasan ekonomi, kondisi geografis yang sulit, serta ketidakpastian status, Agusthinus tetap memilih bertahan sebagai guru. Baginya, pendidikan bagi anak-anak di pelosok Kupang Barat merupakan tanggung jawab yang harus dijalani, meski dengan pengorbanan besar.