Guru SMK di Jambi Adu Jotos dengan Siswa, Berujung Laporan ke Polda

Jakarta – Insiden kekerasan di lingkungan pendidikan terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Seorang guru bernama Agus Saputra terlibat adu jotos dengan sejumlah siswanya hingga rekaman video berdurasi 58 detik viral di media sosial. Peristiwa tersebut kini berlanjut ke ranah hukum setelah Agus melaporkan dugaan pengeroyokan ke Polda Jambi.

Keributan terjadi pada Selasa (13/1/2026) pagi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam video yang beredar, Agus terlihat menyampaikan pernyataan melalui mikrofon di hadapan siswa. Belakangan, pernyataan tersebut diduga mengandung unsur hinaan yang memicu emosi siswa hingga berujung perkelahian fisik.

Sejumlah guru yang berada di lokasi langsung melerai kejadian tersebut dan membawa Agus ke dalam ruangan untuk menghindari bentrokan lanjutan.

Versi Guru dan Siswa Berbeda

Menurut penuturan Agus, insiden bermula ketika ia mendengar seorang siswa menegurnya dengan kata-kata tidak sopan saat ia melintas di depan kelas. Ia kemudian masuk ke kelas dan meminta siswa yang bersangkutan mengaku.

“Siswa tersebut malah menantang saya. Secara refleks saya menampar wajahnya,” kata Agus.

Agus mengklaim tindakannya dilakukan sebagai bentuk pendidikan moral. Namun, versi berbeda disampaikan oleh sejumlah siswa. Mereka menyebut Agus sebelumnya melontarkan kata “miskin” yang dianggap menghina salah satu murid dan memicu kemarahan siswa lain.

Menanggapi tudingan tersebut, Agus membantah berniat menghina. Ia menyebut ucapannya disampaikan dalam konteks motivasi.

“Saya menyampaikan secara umum, bukan mengejek. Maksud saya memotivasi agar siswa yang kurang mampu tidak berperilaku menyimpang,” ujarnya.

Mediasi Berujung Buntu

Dinas Pendidikan Provinsi Jambi bersama forum komunikasi kecamatan, pihak kepolisian, dan majelis guru telah melakukan upaya mediasi. Namun, mediasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

Dalam forum itu, Agus sempat memberi opsi kepada siswa untuk membuat petisi jika tidak menginginkannya mengajar kembali. Di sisi lain, para siswa meminta Agus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Ketegangan kembali terjadi saat Agus berjalan menuju ruang guru. Ia mengaku dikeroyok oleh sejumlah siswa, sehingga mengalami memar di beberapa bagian tubuh, termasuk pipi dan punggung.

Lapor Polisi dan Dampak Psikis

Karena mediasi tak kunjung menemui titik temu, Agus akhirnya menempuh jalur hukum. Didampingi keluarganya, ia melaporkan dugaan pengeroyokan ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026) malam dan menjalani pemeriksaan selama sekitar lima jam.

“Kondisi adik saya masih pusing dan mengalami gangguan psikis akibat kejadian ini yang sudah viral,” kata Nasir, kakak Agus.

Agus juga telah menjalani visum sebagai bagian dari laporan resmi ke kepolisian.

Polisi dan Disdik Lakukan Pendalaman

Kapolres Tanjung Jabung Timur AKBP Ade Chandra menyatakan pihaknya menyesalkan insiden yang mencoreng dunia pendidikan tersebut. Polisi masih mendalami kronologi kejadian untuk mendapatkan gambaran peristiwa secara utuh.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait tuntutan siswa dan permintaan agar guru bersangkutan tidak lagi mengajar di sekolah tersebut.

Akibat insiden ini, kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak sempat dihentikan sementara. Pihak sekolah berharap persoalan ini segera diselesaikan agar proses pendidikan dapat kembali berjalan normal. (balqis)