Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat langkah internasionalisasinya melalui pengembangan ruang pembelajaran budaya dan sejarah Tiongkok, Du Xiu Shu Fang. Inisiatif ini dinilai sebagai strategi penting untuk meningkatkan kapasitas akademik sekaligus memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Tiongkok.
Rektor UM Prof. Hariyono menilai kerja sama tersebut membuka ruang pembelajaran lintas negara yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. UM, kata dia, ingin memetik pelajaran dari pengalaman pembangunan Tiongkok yang mampu melesat pesat sepanjang abad ke-20 tanpa kehilangan identitas budayanya. Pengetahuan dan inovasi yang berkembang di Tiongkok dinilai dapat diserap, lalu disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia.
Keberadaan Du Xiu Shu Fang sekaligus menegaskan komitmen UM dalam memperluas jejaring internasional, memperkuat pengembangan talenta unggul, serta mendorong riset lintas disiplin yang berdampak langsung pada pembangunan regional. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pembelajaran budaya dan sejarah Tiongkok yang dilengkapi koleksi literatur, sumber digital, serta program pertukaran akademik.
UM menargetkan kerja sama ini tidak hanya berhenti pada penguatan hubungan kelembagaan dengan Guangxi Normal University (GXNU), tetapi juga mampu mendorong hilirisasi hasil riset agar memberi kontribusi nyata bagi sektor industri dan perekonomian kedua negara.
Sementara itu, Direktur Kantor Kerja Sama dan Pertukaran Internasional GXNU Li Dongmei menyampaikan bahwa fondasi kolaborasi kedua institusi telah terbangun sejak 2009 melalui pendirian pusat bahasa Mandarin di UM. Kerja sama jangka panjang tersebut dinilai telah menciptakan ekosistem pembelajaran yang saling menguntungkan.
GXNU berharap ruang pembelajaran budaya dan sejarah Tiongkok di UM dapat menjadi jendela pengetahuan baru bagi mahasiswa serta masyarakat Indonesia untuk memahami dinamika sejarah, budaya, dan perkembangan Tiongkok secara lebih komprehensif. (balqis)
















Tinggalkan Balasan