Media Kampung – 29 Maret 2026 | Pemerintah Indonesia berhasil menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) selama periode Lebaran 2026, menghindari kelangkaan yang biasanya mengkhawatirkan publik.

Keberhasilan itu mendapat sorotan dari Ary Bachtiar Krishna Putra, peneliti Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ary menilai pengalaman Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam mengelola kebutuhan energi saat mudik menjadi faktor kunci.

Bahlil sebelumnya memperkirakan stok BBM cukup untuk 20 hari, namun realitas menunjukkan persediaan tetap mencukupi hingga akhir libur.

Menurut Ary, pola konsumsi BBM pada masa Lebaran dapat diprediksi karena durasi mudik biasanya terbatas satu minggu.

Prediksi ini memungkinkan pemerintah menyiapkan pasokan tambahan secara tepat waktu, sehingga tidak terjadi penumpukan antrean di SPBU.

Selain perencanaan logistik, Ary menyoroti sikap lebih bijak masyarakat yang mengurangi penggunaan BBM secara berlebihan.

Kesadaran ini muncul karena kekhawatiran akan kelangkaan, sehingga konsumen menahan konsumsi yang tidak esensial.

Data lapangan menunjukkan antrean BBM di beberapa daerah berkurang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, Ary mengingatkan bahwa ketahanan energi nasional masih menghadapi keterbatasan cadangan strategis.

Cadangan BBM nasional saat ini diperkirakan mencukupi antara 20 hingga 28 hari, jauh di bawah standar negara seperti Jepang atau Singapura.

Untuk menutup kesenjangan tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan hingga 90 hari dalam beberapa tahun ke depan.

Target 90 hari dianggap strategis karena memberi ruang manuver pada fluktuasi harga pasar dan gangguan pasokan eksternal.

Ary menekankan bahwa realisasi infrastruktur penyimpanan harus diikuti oleh kebijakan distribusi yang transparan.

Salah satu kebijakan pendukung adalah program biodiesel B50, yang menggabungkan 50 persen minyak nabati dalam bahan bakar bensin.

Program B50 telah mengurangi ketergantungan impor solar, meski kebutuhan bensin tetap mengandalkan suplai luar negeri.

Penggunaan biodiesel juga memberikan efek positif pada emisi karbon, sejalan dengan agenda transisi energi hijau.

Secara keseluruhan, kombinasi pengalaman pemerintah, prediksi konsumsi, dan kebijakan energi menjadi faktor utama keberhasilan pasokan BBM saat Lebaran.

Keberhasilan ini dinilai sebagai indikator positif dalam mengelola ketahanan energi nasional di tengah tekanan global.

Namun, Ary memperingatkan bahwa tanpa peningkatan cadangan strategis, risiko gangguan pasokan di masa mendatang tetap tinggi.

Ia mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk industri migas dan regulator, untuk mempercepat proyek penambahan fasilitas penyimpanan.

Pemerintah telah mengalokasikan dana tambahan untuk pembangunan terminal penyimpanan di pelabuhan utama Indonesia.

Investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas total hingga 90 hari pada akhir 2028.

Selain itu, upaya diversifikasi sumber energi, seperti pengembangan biofuel dan energi terbarukan, menjadi agenda paralel.

Pendekatan holistik ini diharapkan memperkuat ketahanan energi dan mengurangi volatilitas harga BBM di pasar domestik.

Masyarakat diharapkan terus mendukung kebijakan dengan mengontrol konsumsi dan memanfaatkan transportasi publik bila memungkinkan.

Pengawasan ketat terhadap distribusi BBM di tingkat daerah juga menjadi prioritas untuk mencegah praktik spekulasi.

Dengan mekanisme monitoring real‑time, otoritas dapat menyesuaikan suplai secara dinamis sesuai permintaan wilayah.

Kesimpulannya, keberhasilan pasokan BBM pada Lebaran 2026 mencerminkan sinergi antara kebijakan pemerintah, perilaku konsumen, dan inovasi teknologi energi.

Ke depan, fokus pada peningkatan cadangan strategis dan diversifikasi energi menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pasokan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.