Media Kampung – 28 Maret 2026 | Mulai Rabu 1 April 2026, Pegawai Negeri Sipil (ASN) di Kabupaten Nganjuk akan melaksanakan kerja dari rumah (WFH) secara resmi satu hari dalam seminggu.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap krisis energi global dan bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak secara signifikan.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa kebijakan ini sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital di lingkungan pemerintah daerah.
Ia menambahkan bahwa kebijakan WFH bukan sekadar penghematan, melainkan upaya mempercepat adopsi sistem kerja berbasis teknologi.
Surat edaran resmi tentang pelaksanaan WFH akan dikeluarkan pada 30 Maret 2026, dengan aturan absensi yang ketat.
Setiap ASN wajib melakukan absensi tiga kali sehari (pagi, siang, sore) dan mengaktifkan live location di grup WhatsApp masing‑masing OPD.
Pengawasan ketat diharapkan mencegah penyalahgunaan kebijakan dan memastikan produktivitas tetap terjaga selama hari kerja di rumah.
Target utama kebijakan ini adalah menekan konsumsi BBM hingga 90 ribu liter per bulan, berdasarkan estimasi penggunaan kendaraan dinas.
Penghematan energi juga diupayakan di kantor dengan membatasi penggunaan listrik, lampu, dan AC setelah pukul 13.00 WIB.
Langkah ini diharapkan memberikan dampak nyata pada pengeluaran anggaran daerah yang selama ini cukup besar untuk bahan bakar dan listrik.
Meskipun sebagian besar unit kerja menerapkan WFH, beberapa instansi yang berhubungan langsung dengan masyarakat tetap beroperasi secara normal.
Instansi yang tetap buka meliputi BPBD, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Bakesbangpol, Disdukcapil, serta seluruh puskesmas dan rumah sakit daerah.
Keberlangsungan layanan publik menjadi prioritas utama, sehingga unit pelayanan kritis tidak terpengaruh oleh kebijakan WFH.
Bupati Marhaen menegaskan bahwa kualitas pelayanan tetap menjadi fokus, meskipun sebagian pegawai bekerja dari rumah.
Kebijakan ini juga diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam menghadapi tantangan energi dan digitalisasi.
Jika berhasil, model WFH ini dapat diperluas atau dijadikan pola kerja baru bagi ASN di masa depan.
Implementasi WFH di Nganjuk didukung oleh infrastruktur teknologi informasi yang telah ditingkatkan selama beberapa tahun terakhir.
Peningkatan jaringan internet dan penggunaan aplikasi kolaborasi menjadi faktor kunci agar produktivitas tidak menurun.
Selain mengurangi konsumsi BBM, kebijakan ini berpotensi menurunkan emisi karbon daerah, selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Penghematan energi ini diharapkan dapat dialokasikan kembali untuk program pembangunan lain yang lebih mendesak.
Secara keseluruhan, kebijakan WFH setiap Rabu di Nganjuk mencerminkan respons proaktif pemerintah daerah terhadap krisis energi global dan upaya modernisasi birokrasi.
Keberhasilan pelaksanaannya akan menjadi indikator penting bagi kebijakan serupa di tingkat provinsi maupun nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan