Media Kampung – 17 Maret 2026 | Bank Mandiri (BMRI) mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimum Rp1,17 triliun. Dana tersebut akan diambil sepenuhnya dari kas internal perusahaan, termasuk biaya transaksi seperti komisi perantara pedagang efek.
Rencana Buyback dan Sumber Dana
Menurut pernyataan Corporate Secretary BMRI, Andhika Vista, seluruh dana buyback berasal dari likuiditas yang dimiliki bank tanpa mengorbankan modal kerja. Dana tersebut juga mencakup biaya operasional terkait pembelian, sehingga tidak ada kebutuhan pendanaan eksternal. Kebijakan ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk mengoptimalkan struktur kepemilikan saham dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Jadwal Persetujuan dan Pelaksanaan
Rencana buyback akan diajukan untuk disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 29 April 2026. Bila disetujui, proses pembelian kembali akan berlangsung selama 12 bulan, dimulai pada 30 April 2026 dan berakhir pada 29 April 2027. Jadwal tersebut memberi ruang bagi bank untuk menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi pasar dan likuiditas harian.
- 29 April 2026 – RUPS menyetujui program buyback.
- 30 April 2026 – Mulai pelaksanaan pembelian kembali.
- 29 April 2027 – Penutupan program buyback.
Implikasi Finansial dan Mekanisme MESOP
Prospektus singkat mengindikasikan bahwa program buyback tidak akan menimbulkan dampak material pada operasional atau kelangsungan usaha. Total aset konsolidasi diproyeksikan turun tipis dari Rp2.829.948 miliar menjadi Rp2.828.781 miliar. Rasio Kecukupan Modal (CAR) diperkirakan menurun 0,07 poin menjadi 20,36 persen, masih berada di atas batas regulasi.
Saham yang dibeli kembali tidak akan dimusnahkan. Sebaliknya, saham tersebut akan dialokasikan ke program kepemilikan saham bagi manajemen, karyawan, serta direksi dan komisaris non‑independen (MESOP – Management Employee Share Option). Alokasi ini bersifat selektif dan berbasis kinerja, selaras dengan kebijakan remunerasi yang berlaku.
Reaksi Pasar dan Analisis
Pada hari pengumuman, 17 Maret 2026, saham BMRI mencatat kenaikan intraday sebesar 1,49 persen atau sekitar 70 poin, berakhir pada Rp4.780. Meskipun demikian, dalam satu minggu terakhir saham turun 2,65 persen, dan dalam sebulan mengalami penurunan 5,81 persen. Sejak awal tahun, performa saham melemah 6,7 persen, mencerminkan tekanan pasar yang lebih luas pada sektor perbankan.
Analisis pasar menyebutkan bahwa buyback dapat menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang, terutama bila didanai dari kas internal. Namun, investor juga menilai bahwa efek pengembalian modal terbatas mengingat besarnya nilai program dibandingkan total ekuitas bank.
Secara keseluruhan, program buyback BMRI menegaskan komitmen perusahaan untuk memperkuat nilai pemegang saham tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Keputusan RUPS pada akhir April akan menjadi penentu utama, sementara pelaksanaan selama setahun ke depan akan memberikan gambaran nyata tentang dampak program terhadap likuiditas dan struktur kepemilikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








