Media Kampung – 26 Maret 2026 | Setelah jalan menuju Desa Malasari selesai dikonkritkan, desa tersebut kini menjadi tujuan wisata Lebaran yang ramai dikunjungi.
Pengaspalan jalan memotong waktu tempuh dari Jakarta menjadi lebih singkat, sehingga akses bagi wisatawan menjadi lebih mudah.
Sebelumnya, pengunjung harus menempuh jalur berpasir dan berlumpur yang menghalangi arus kunjungan.
Perbaikan infrastruktur ini bertepatan dengan meningkatnya minat pada destinasi alam seperti Curug Cisadane yang berdekatan.
Curug Cisadane terletak sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta, berada di Kampung Ciwaluh, Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, tepat di batas wilayah Sukabumi.
Air terjun tersebut menawarkan pemandangan alam yang masih alami, cocok untuk kegiatan trekking, fotografi, dan relaksasi.
Biaya masuk ditetapkan sebesar Rp15.000 per orang dengan tambahan Rp10.000 untuk parkir motor.
Jalur trekking menuju curug membentang 6‑7 kilometer dari basecamp, melintasi sawah, hutan hujan, dan aliran sungai.
Rute ini dikategorikan ringan hingga sedang, sehingga dapat dinikmati oleh pejalan kaki maupun pendaki pemula.
Musim hujan meningkatkan debit air curug, menghasilkan pemandangan dramatis namun membuat jalur menjadi licin.
Pihak berwenang menyarankan pengunjung memakai sepatu anti‑selip, jas hujan, dan pakaian yang nyaman.
Bagi keluarga yang menginginkan rute pendek, Curug Ciawitali dapat dicapai dalam 30 menit berjalan kaki dari basecamp.
Jalan beraspal di Malasari mempermudah akses ke kedua curug tersebut, mendorong kunjungan harian.
Arif Rahman, pemilik homestay di Malasari, melaporkan peningkatan pemesanan sejak jalan selesai.
Ia menjelaskan bahwa jalan yang mulus memungkinkan tamu tiba dengan aman dan menjelajah tanpa kelelahan.
Pemerintah desa berencana menambah fasilitas publik seperti toilet dan papan petunjuk untuk menampung arus pengunjung.
Kelompok lingkungan mengingatkan bahwa peningkatan lalu lintas dapat menimbulkan dampak ekologis, sehingga perlu langkah berkelanjutan.
Mereka mengusulkan pengelolaan sampah, larangan membuang sampah sembarangan, dan pemeliharaan jalur trekking.
Meski ada kekhawatiran, pendapatan masyarakat meningkat melalui homestay, warung makan, dan jasa pemandu.
Lebaran yang biasanya dipenuhi silaturahmi keluarga kini menawarkan alternatif liburan di alam bagi warga setempat.
Data agen perjalanan menunjukkan peningkatan pemesanan untuk Malasari dan Curug Cisadane sebesar 40% dibanding tahun sebelumnya.
Balai pariwisata daerah memperkirakan tren ini akan berlanjut seiring perbaikan jalan lain.
Secara keseluruhan, pengaspalan jalan mengubah Malasari menjadi destinasi Lebaran yang dapat dijangkau, menghubungkan wisatawan dengan keindahan alam sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan