Media Kampung – 24 Maret 2026 | Pada libur Lebaran 2026, kawasan pedestrian Malioboro di Yogyakarta mengalami lonjakan signifikan baik pengunjung maupun kendaraan, menjadikannya titik fokus aktivitas wisatawan domestik.
Data lapangan menunjukkan peningkatan pengunjung sekitar 70 % dibandingkan hari biasa, menurut Nita, pemilik toko batik yang menyaksikan keramaian sejak menjelang Idul Fitri.
Pedagang lain, Eni, mencatat kenaikan sekitar 30 % dalam dua hari terakhir, menambahkan bahwa arus wisatawan masih di bawah tingkat puncak historis yang biasanya terjadi pada hari ketujuh setelah Lebaran.
Meskipun jumlah wisatawan lebih tinggi, para penjual mengonfirmasi tidak ada kenaikan harga produk oleh-oleh; harga tetap sama seperti hari kerja biasa.
Rekaman kepolisian memperkirakan volume kendaraan yang memasuki kawasan mencapai sekitar 300 ribu unit sejak H‑1, dengan mayoritas menggunakan plat luar Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kasat Lantas Polresta Yogyakarta, AKP Alvian Hidayat, menjelaskan bahwa arus kendaraan tertumpu pada jam 17.00‑19.00 dan 19.00‑21.00, kemudian menurun setelah pukul 21.30.
Untuk menghindari kemacetan, Satlantas menyiapkan skema pengalihan arus, termasuk penggunaan jalur Jalan Mataram bagi kendaraan yang memasuki Malioboro serta pengalihan di simpang Kridosono ke flyover Lempuyangan.
Pengelolaan lalu lintas juga melibatkan penutupan sementara akses tertentu dan pembukaan pintu masuk alternatif di kawasan Pasar Kembang, guna menjaga kelancaran pergerakan kendaraan.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Fitria Dyah Anggraeni, mencatat total pengunjung masuk melalui lima titik utama mencapai 137 722 orang dalam periode 18‑22 Maret 2026.
Pengunjung meliputi wisatawan dari Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, serta daerah luar DIY yang datang untuk menikmati kerajinan batik, kuliner tradisional, dan pertunjukan jalanan.
Alfian, wisatawan asal Bogor, menyatakan bahwa meski selalu mengalami kemacetan, ia tetap memilih Malioboro setiap Lebaran karena nilai nostalgia dan kesempatan berfoto di plang ikonik.
Pipit, pertama kali mengunjungi Malioboro dari Cianjur, menegaskan antusiasmenya meski harus berdempetan, bahkan menyewa fotografer jalanan untuk mengabadikan momen.
Pengunjung juga memanfaatkan fasilitas parkir yang kini dapat diakses melalui pemindaian QR code, meskipun beberapa laporan menyebutkan kendala izin akses pada layanan tertentu.
Secara keseluruhan, peningkatan kunjungan dan kendaraan menunjukkan daya tarik Malioboro tetap kuat, sementara langkah pengaturan lalu lintas dan stabilitas harga membantu menjaga kenyamanan wisatawan.
Kondisi ini diperkirakan akan mencapai puncak pada H+7, ketika arus wisatawan tradisional biasanya mencapai angka tertinggi, menandakan potensi kepadatan yang lebih besar dalam beberapa hari mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan