Banyuwangi, ujung paling timur Pulau Jawa, memang dikenal sebagai gerbang menuju Bali. Namun, tak hanya pantai dan gunung yang menjadi magnet wisatawan. Kota ini juga menyimpan harta karun musik yang beragam, mulai dari alunan gamelan tradisional hingga dentuman bass elektronik yang mengguncang panggung modern. Keunikan inilah yang melahirkan sebuah acara tahunan yang semakin dikenal: Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi. Festival ini bukan sekadar rangkaian konser, melainkan pertemuan lintas generasi, budaya, dan genre yang menampilkan kekayaan seni lokal sekaligus membuka ruang bagi seniman kontemporer.
Pada setiap edisinya, festival ini menampilkan panggung terbuka di area-al area ikonik seperti Pantai Pulau Merah, Benteng Van der Wijck, atau bahkan di tengah sawah hijau di Desa Tegalalang. Suasana yang berbaur antara deburan ombak, aroma kopi robusta, dan sorakan penonton menciptakan atmosfer yang tak terlupakan. Bagi pengunjung yang ingin merasakan “duet” antara tradisi dan inovasi, acara ini menjadi pilihan tepat untuk menambah warna dalam agenda liburan mereka.
Berbeda dengan festival musik lain yang biasanya berfokus pada satu genre, Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi mengusung konsep integratif. Di satu sisi, ada pertunjukan musik tradisional yang menonjolkan instrumen seperti gamelan, kendang, dan seruling bambu. Di sisi lain, artis modern—mulai dari band indie hingga DJ elektronik—menghadirkan set yang memadukan elemen lokal dengan sound global. Kombinasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman pendengar, tetapi juga memberi panggung bagi seniman lokal untuk berekspresi di ranah yang lebih luas.
Sejarah singkat Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi

Festival ini berawal pada tahun 2015, diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Banyuwangi bersama sejumlah komunitas budaya setempat. Ide dasarnya adalah mengangkat musik tradisional yang sempat terpinggirkan oleh arus modernisasi, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda yang gemar bereksperimen dengan genre baru. Pada edisi pertama, hanya ada tiga panggung: satu untuk musik tradisional, satu untuk musik pop lokal, dan satu lagi untuk pertunjukan tari tradisional.
Seiring berjalannya waktu, festival ini berhasil menarik sponsor dari sektor swasta, termasuk perusahaan telekomunikasi dan produsen alat musik. Dukungan tersebut memungkinkan penyelenggaraan yang lebih besar, penambahan stage, serta kolaborasi internasional. Tahun 2022, festival ini menampilkan musisi dari Jepang dan Australia yang berkolaborasi dengan grup gamelan Banyuwangi, menandai langkah penting dalam memperluas jangkauan internasional.
Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi: Konsep kolaborasi lintas genre
Inti dari Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi terletak pada kolaborasi. Tidak jarang penampil tradisional mengundang DJ untuk menciptakan remix dengan melodi gamelan, atau band indie menambahkan instrumen tradisional ke dalam lagu mereka. Contohnya, kolaborasi antara grup musik tradisional “Gamelan Banyuwangi” dengan DJ lokal “Krakatoa Beats” menghasilkan trek “Sunda Sunrise” yang menjadi hits di antara penonton muda.
Kolaborasi semacam ini tidak hanya memperkaya musikalitas, tetapi juga mengedukasi penonton tentang nilai-nilai budaya. Penonton yang awalnya datang hanya untuk menikmati musik elektronik pun akhirnya terbuka untuk mendengar cerita-cerita yang terkandung dalam lagu tradisional, seperti legenda Ratu Pantai atau kisah perjuangan para petani padi.
Dinamika musik tradisional dalam festival

Musik tradisional Banyuwangi memiliki akar yang dalam, dipengaruhi oleh budaya Osing, Banyumasan, dan bahkan unsur Bali. Instrumen yang paling ikonik antara lain:
- Gamelan Banyuwangi – terdiri atas gong, kenong, dan kendang yang menghasilkan suara resonan khas.
- Gandrung – tarian dan musik yang menggabungkan alat musik petik dan perkusi, biasanya dipentaskan dalam upacara adat.
- Angklung bambu – meskipun lebih dikenal di Jawa Barat, angklung juga menjadi bagian dari pertunjukan tradisional di Banyuwangi.
Pertunjukan tradisional tidak hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana melestarikan bahasa, cerita, dan nilai-nilai moral. Pada festival, biasanya ada sesi “Workshop Budaya” yang mengajak pengunjung belajar cara memainkan gamelan atau menari gandrung secara singkat. Aktivitas ini memperkuat rasa kebanggaan lokal sekaligus menambah dimensi interaktif bagi wisatawan.
Musik modern: Dari indie hingga EDM

Di sisi lain, musik modern yang hadir di festival mencakup genre-genre yang sedang tren di kancah internasional: indie rock, pop elektronik, hip‑hop, dan EDM. Artis-artis lokal seperti “Sunda Vibes” dan “Kopi Luwak Band” kerap menampilkan lagu yang terinspirasi dari alam Banyuwangi, menggabungkan suara alam (ombak, burung, angin) ke dalam produksi digital mereka.
Salah satu momen paling ditunggu adalah penampilan DJ internasional yang memanfaatkan sampel gamelan dalam set mereka. Ini menciptakan “fusion” yang tidak hanya meneguhkan identitas Banyuwangi, tetapi juga memperluas horizon musik penonton. Efeknya, festival menjadi platform yang mempromosikan “Banyuwangi Sound” ke pasar global.
Dampak ekonomi dan sosial

Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi daerah. Menurut data Dinas Pariwisata, pada edisi 2023 saja, jumlah wisatawan domestik meningkat 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan sektor perhotelan, transportasi, dan kuliner mengalami lonjakan, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja tambahan bagi warga setempat.
Selain itu, festival menjadi ajang promosi bagi produk lokal seperti kopi robusta, kerajinan anyaman, dan batik khas Banyuwangi. Pedagang kaki lima yang menjajakan makanan tradisional seperti “rujak cingur” atau “ayam taliwang” mendapat pangsa pasar yang lebih luas. Bahkan, IHSG Buka Rebound 1,66% di Tengah Penguatan Bursa Asia menyoroti bagaimana industri kreatif daerah dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Tips menikmati Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi
- Rencanakan akomodasi lebih awal – Karena festival biasanya berlangsung selama tiga hari, pemesanan hotel atau homestay jauh‑jauh hari sangat disarankan.
- Gunakan transportasi umum atau sewa motor – Banyak area festival yang berada di lokasi yang sulit diakses dengan mobil pribadi.
- Bawa perlengkapan hujan – Musim hujan di Banyuwangi dapat datang tiba‑tiba, jadi payung atau jas hujan wajib ada.
- Cicipi kuliner lokal – Jangan lewatkan kesempatan mencicipi “tape singkong” atau “sate kelapa”.
- Ikuti workshop budaya – Ini kesempatan langka belajar langsung dari para seniman tradisional.
Keberlanjutan dan tantangan ke depan

Seperti festival besar lainnya, Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi menghadapi tantangan dalam hal keberlanjutan lingkungan. Sampah plastik, kebisingan, dan penggunaan energi menjadi isu yang harus dikelola. Oleh karena itu, panitia telah menggandeng Pemprov NTB Siapkan Skema Khusus untuk Jaga Kedamaian Nyepi dan Idul Fitri 2026 untuk mengadopsi kebijakan ramah lingkungan, seperti penggunaan botol air isi ulang, panel surya portable, dan penegakan zona tanpa plastik.
Selain itu, penting bagi festival untuk terus melibatkan komunitas lokal dalam proses perencanaan. Kolaborasi dengan lembaga budaya seperti Tawur Kesanga: Upacara Penyeimbangan Alam Sebelum Nyepi memastikan bahwa nilai-nilai adat tetap terjaga, sekaligus memberikan ruang bagi inovasi.
Ke depan, harapan utama adalah menjadikan festival ini sebagai “gateway” bagi dunia internasional untuk mengenal kekayaan budaya Banyuwangi. Dengan menambahkan program pertukaran seniman, meningkatkan kualitas produksi panggung, serta memperluas jaringan pemasaran digital, festival dapat terus tumbuh tanpa mengorbankan keaslian yang menjadi jiwa utamanya.
Secara keseluruhan, Festival musik tradisional dan modern Banyuwangi bukan hanya sekadar konser musik, melainkan sebuah platform dinamis yang menyatukan generasi, melestarikan warisan, dan menggerakkan ekonomi kreatif daerah. Bagi siapa pun yang ingin merasakan perpaduan antara tradisi dan inovasi, festival ini menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








