Kabupaten Klaten dikenal sebagai salah satu wilayah dengan peninggalan candi terbanyak di Jawa Tengah. Selain Candi Prambanan, Sojiwan, Sewu, dan Merak, Klaten juga menyimpan satu situs yang jarang disorot publik, yakni Candi Karangnongko.

Candi ini menarik perhatian karena keberadaannya yang masih diselimuti misteri. Tidak banyak catatan sejarah yang menjelaskan asal-usulnya, bahkan bentuk bangunannya kini telah runtuh dan nyaris tak terlihat.

Ditemukan Tak Sengaja oleh Petani

Berdasarkan arsip detikTravel, Candi Karangnongko pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an. Saat itu, seorang petani yang tengah menggarap sawah secara tidak sengaja menemukan tumpukan batu di dalam tanah.

Susunan batu tersebut menyerupai punden berundak dan diketahui sebagai sisa bangunan candi yang terkubur sekitar satu meter di bawah permukaan tanah. Penemuan ini sempat menghebohkan warga Dusun Karangnongko dan menjadi perbincangan masyarakat setempat.

Minimnya prasasti dan dokumen sejarah membuat identitas Candi Karangnongko belum dapat dipastikan. Meski demikian, para ahli menduga situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berasal dari sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Lokasi Candi Karangnongko

Candi Karangnongko berada di Dusun Karangnongko, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasinya sekitar 16 kilometer ke arah barat laut dari pusat Kabupaten Klaten.

Situs ini terletak di tengah area persawahan dan berada di dekat aliran sungai. Jaraknya sekitar satu kilometer di selatan Candi Merak. Meski hanya sekitar 100 meter dari jalan raya Klaten–Karangnongko, keberadaan candi ini nyaris tidak terlihat dari kejauhan.

Mengapa Disebut Candi Misterius?

Candi Karangnongko dijuluki sebagai candi misterius karena ketiadaan informasi sejarah yang jelas. Bangunan candinya telah runtuh dan kini hanya menyisakan tumpukan batu andesit yang menyatu dengan lingkungan sekitar.

Dari kejauhan, situs ini sulit dikenali sebagai candi. Bahkan masyarakat yang melintas di jalur utama pun kerap tidak menyadari keberadaannya. Kondisi inilah yang membuat Candi Karangnongko kerap luput dari perhatian wisatawan maupun peneliti.

Kondisi dan Temuan di Area Candi

Kawasan Candi Karangnongko memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi. Di dalam area tersebut terdapat bangunan utama berukuran sekitar 3 x 3 meter. Di bagian barat dan lantainya ditemukan tumpukan batu bata merah, sementara di sisi selatan terdapat susunan batu yang menyerupai gapura.

Di area utama juga ditemukan sejumlah komponen candi seperti fragmen batu, kemuncak, serta sebuah lingga setinggi sekitar satu meter. Di bagian barat daya, terdapat potongan arca yang hanya menyisakan bagian kaki, diletakkan di atas yoni lapik.

Selain itu, ditemukan pula batu relief, batu kulit candi, serta doorpel kala. Seluruh peninggalan tersebut menunjukkan usia yang sangat tua dan hingga kini belum dapat ditafsirkan secara utuh.

Belum Layak Menjadi Cagar Budaya

Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) X, Wahyu Broto Raharjo, menyebut Candi Karangnongko masih menyimpan banyak teka-teki yang belum terjawab.

Menurutnya, keterbatasan data sejarah yang valid membuat situs ini belum memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Kekurangan data yang dapat dipertanggungjawabkan menyebabkan nilai kecagarbudayaan Candi Karangnongko masih tergolong kecil,” jelas Wahyu.

Ia juga menambahkan bahwa hingga kini belum bisa dipastikan apakah Candi Karangnongko merupakan peninggalan bercorak Hindu atau Buddha, meskipun ada dugaan kuat berasal dari era Mataram Kuno.(selsy)