Ritual Kebo-Keboan Banyuwangi Harmoni Antara Alam, Manusia, dan Leluhur

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Banyuwangi masih setia menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad. Salah satunya adalah tradisi Kebo-Keboan, ritual tahunan yang unik dan sarat makna spiritual.

Sesuai namanya, “Kebo-Keboan” berarti “kerbau-kerbauan” atau “kerbau jadi-jadian”. Namun, bukan hewan sungguhan yang digunakan dalam tradisi ini, melainkan manusia yang berdandan dan berperilaku menyerupai kerbau. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta—sebuah bentuk doa agar tanah tetap subur dan panen berlimpah.

Asal-Usul dan Makna Filosofis Tradisi Kebo-Keboan

Tradisi Kebo-Keboan telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat suku Using, komunitas asli Banyuwangi. Ritual ini biasanya digelar di dua desa yang menjadi pusat pelaksanaannya, yakni Desa Alasmalang dan Desa Aliyan, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurut cerita masyarakat setempat, tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun lalu sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan agar terhindar dari hama dan gagal panen. Kerbau dipilih sebagai simbol karena hewan tersebut dianggap sahabat petani dan memiliki peran penting dalam mengolah tanah pertanian.

Dalam pandangan masyarakat Using, keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga berkaitan erat dengan keseimbangan antara alam dan spiritualitas. Karena itu, ritual Kebo-Keboan tidak sekadar pertunjukan budaya, melainkan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam sekitar.

Waktu Pelaksanaan dan Rangkaian Acara

Tradisi Kebo-Keboan diselenggarakan sekali dalam setahun, tepatnya pada bulan Sura (atau Muharram dalam kalender Hijriah), antara tanggal 1 hingga 10. Bulan ini dianggap sakral karena menjadi waktu terbaik untuk memanjatkan doa dan harapan bagi kesuburan bumi.

  1. Prosesi Awal: Doa Bersama dan Pembersihan Diri

Sebelum ritual dimulai, warga berkumpul di balai desa untuk melakukan doa bersama. Prosesi ini dipimpin oleh tokoh adat dan sesepuh desa. Setelah itu, para peserta Kebo-Keboan menjalani ritual bersih diri dengan cara mandi di sungai sebagai simbol penyucian lahir dan batin.

  1. Transformasi Menjadi “Kerbau Jadi-jadian”

Bagian paling menarik dari upacara ini adalah saat warga yang terpilih sebagai “kebo” mulai berdandan menyerupai kerbau. Mereka mengecat tubuh dengan warna hitam pekat dari campuran arang dan minyak kelapa. Di kepala mereka dipasang tanduk buatan, sementara pakaian yang dikenakan pun sederhana, menyerupai petani di sawah.

Setelah selesai berdandan, para “kebo” mulai berjalan merangkak di jalan desa, menirukan gerakan dan suara kerbau. Tak jarang, mereka juga membajak tanah secara simbolis menggunakan alat pertanian tradisional.

  1. Ritual Kesurupan dan Pementasan

Dalam beberapa momen, peserta “kebo” dipercaya mengalami trance atau kesurupan, yang dianggap sebagai tanda bahwa roh leluhur atau kekuatan alam hadir dalam prosesi tersebut. Suasana semakin khidmat saat musik gamelan dan tabuhan kendang mengiringi jalannya ritual.

Warga kemudian mengarak para kebo mengelilingi sawah dan pusat desa sambil membawa hasil bumi, seperti padi, kelapa, dan buah-buahan. Semua ini menjadi simbol persembahan kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan.

Daya Tarik Wisata Budaya Banyuwangi

Dalam beberapa tahun terakhir, Kebo-Keboan Banyuwangi tak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Setiap kali digelar, ratusan pengunjung datang ke Desa Alasmalang atau Desa Aliyan untuk menyaksikan langsung keunikan tradisi ini.

Pemerintah daerah turut mendukung pelestarian tradisi ini dengan menjadikannya bagian dari kalender event pariwisata Banyuwangi Festival (B-Fest). Melalui kegiatan ini, wisatawan tak hanya menikmati pertunjukan adat, tetapi juga mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya masyarakat Using yang menjunjung tinggi kebersamaan dan keselarasan hidup.

Selain menyaksikan ritual, pengunjung juga bisa berinteraksi langsung dengan warga, mencicipi kuliner khas Banyuwangi, hingga membeli cendera mata lokal seperti batik Using dan kerajinan tangan tradisional.

Makna Sosial dan Spiritual di Balik Tradisi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Kebo-Keboan memiliki makna sosial yang mendalam. Tradisi ini menjadi sarana mempererat solidaritas antarwarga. Setiap orang, tanpa memandang usia atau status sosial, berpartisipasi dalam kegiatan ini—baik sebagai pelaku, panitia, maupun penonton.

Dari sisi spiritual, Kebo-Keboan mengajarkan nilai kerendahan hati, kerja keras, dan rasa syukur atas berkah alam. Dalam kehidupan agraris masyarakat Banyuwangi, ritual ini menjadi simbol pengingat bahwa manusia sejatinya bergantung pada alam, dan alam membutuhkan perlakuan yang bijak dari manusia.

Kebo-Keboan Warisan Budaya yang Terus Hidup

Seiring perkembangan zaman, banyak tradisi lokal mulai tergerus oleh modernisasi. Namun, Kebo-Keboan tetap bertahan dan bahkan berkembang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi. Upaya pelestarian dilakukan tidak hanya oleh masyarakat adat, tetapi juga oleh pemerintah daerah, komunitas budaya, hingga akademisi.

Kebo-Keboan kini bukan hanya ritual keagamaan atau adat, tetapi juga identitas budaya yang memperkaya khazanah tradisi Indonesia. Dengan tetap mempertahankan nilai-nilai leluhur dan mengadaptasinya dalam konteks modern, tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat bertahan di tengah perubahan zaman.

Kearifan yang Tak Lekang oleh Waktu

Tradisi Kebo-Keboan Banyuwangi adalah lebih dari sekadar atraksi budaya. Ia adalah cerminan dari filosofi hidup masyarakat agraris yang selalu menghormati alam, memuliakan leluhur, dan menumbuhkan kebersamaan.

Bagi wisatawan, menyaksikan ritual ini bukan hanya pengalaman visual, tetapi juga pelajaran spiritual tentang bagaimana manusia dan alam semestinya hidup berdampingan dalam harmoni.

Ketika tabuhan kendang berhenti dan “kerbau-kerbauan” kembali menjadi manusia biasa, pesan yang tersisa begitu kuat: bahwa kesuburan dan kemakmuran tidak hanya lahir dari tanah, tetapi juga dari rasa syukur dan kebersamaan. (selsy).