Desa Adat Kemiren Banyuwangi Jejak Budaya Osing yang Mendunia
Banyuwangi tidak hanya dikenal karena pesona alamnya yang menawan, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu pusat pelestarian budaya tersebut adalah Desa Adat Kemiren, kampung tradisional yang masih memegang teguh identitas suku Osing, penduduk asli Banyuwangi.
Terletak di Kecamatan Glagah, Desa Kemiren menjadi saksi perjalanan panjang budaya Osing yang diwariskan turun-temurun. Desa ini semakin dikenal luas setelah masuk dalam daftar Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025) dari United Nations Tourism (UN Tourism).
Pelestarian Budaya di Tengah Arus Modernisasi
Di era serba digital dan modern, masyarakat Desa Adat Kemiren memilih untuk tetap menjaga jati diri mereka. Tradisi, bahasa, serta arsitektur rumah adat khas Osing masih dipertahankan hingga kini. Meskipun demikian, warga tidak menolak kemajuan, melainkan mengelolanya dengan cara yang selaras dengan nilai budaya mereka.
Rumah-rumah di Kemiren dibangun dengan gaya khas Osing, berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia, mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya. Dalam keseharian, banyak warga yang masih menggunakan bahasa Osing sebagai bahasa utama di rumah, memastikan identitas mereka tetap terjaga.
Suasana tradisional semakin terasa ketika aroma kopi khas Banyuwangi menyeruak di pagi hari, sementara alunan musik gamelan mengiringi malam. Semua elemen itu menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Ritual dan Tradisi yang Tetap Lestari
Kekuatan utama Desa Kemiren terletak pada kemampuannya menjaga tradisi. Salah satu acara paling terkenal adalah Ritual Tumpeng Sewu, upacara syukur yang diadakan setiap tahun. Dalam perayaan ini, ribuan tumpeng disajikan di sepanjang jalan desa sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan warga.
Selain itu, ada Upacara Barong Ider Bumi, sebuah ritual tolak bala yang dipercaya mampu melindungi desa dari marabahaya. Tradisi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan karena menggabungkan unsur spiritual, seni pertunjukan, dan kebersamaan masyarakat.
Tak kalah penting, kesenian Gandrung, tarian tradisional khas Banyuwangi, juga tumbuh subur di Kemiren. Tarian ini yang dulunya menjadi bagian dari upacara panen, kini menjadi ikon budaya yang sering ditampilkan dalam berbagai festival tingkat nasional dan internasional.
Sinergi antara Adat dan Pariwisata
Masyarakat Desa Kemiren berhasil membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi. Alih-alih menutup diri, mereka menjadikan tradisi sebagai daya tarik utama wisata. Dengan dukungan pemerintah daerah, konsep desa wisata berbasis budaya diterapkan secara berkelanjutan.
Wisatawan yang datang tidak hanya sekadar melihat, tetapi juga dapat berpartisipasi langsung dalam kegiatan masyarakat. Mereka bisa belajar membuat kopi Osing, ikut menumbuk padi dengan cara tradisional, atau menginap di homestay milik warga yang mempertahankan bentuk rumah adat.
Pendekatan ini menciptakan pengalaman wisata yang autentik. Setiap pengunjung diajak untuk memahami filosofi kehidupan masyarakat Osing yang sederhana namun penuh makna. Model wisata berbasis komunitas ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya.
Pengakuan Dunia untuk Kemiren
Keberhasilan Desa Kemiren dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan inovasi pariwisata mendapat pengakuan internasional. Pada tahun 2025, United Nations Tourism (UN Tourism) menobatkan Kemiren sebagai salah satu bagian dari The Best Tourism Villages Upgrade Programme.
Penghargaan ini diberikan kepada desa wisata yang dianggap berhasil menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. UN Tourism menilai Kemiren sebagai contoh nyata bagaimana budaya lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus alat diplomasi budaya. Pengakuan ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi desa wisata lain di Indonesia untuk terus mengembangkan potensi mereka tanpa meninggalkan akar budaya.
Daya Tarik Budaya yang Tak Pernah Padam
Daya tarik utama Desa Adat Kemiren tidak hanya pada keindahan arsitektur rumah atau kekayaan tradisinya, tetapi juga pada semangat masyarakatnya. Di desa ini, budaya bukan sesuatu yang dipertontonkan, melainkan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Wisatawan yang datang akan merasakan keramahan warga, menyaksikan tarian Gandrung, dan menikmati kopi khas Osing yang disajikan dengan penuh kehangatan. Suasana desa yang asri dan tenang menjadikan Kemiren tempat ideal untuk memahami makna hidup yang selaras dengan alam dan budaya.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Desa Adat Kemiren Banyuwangi menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan kemajuan pariwisata dapat berjalan beriringan. Berkat kerja sama masyarakat, pemerintah, dan dukungan lembaga internasional, desa ini berhasil menjaga warisan budaya Osing agar tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Setiap senyum penduduknya, setiap langkah dalam tarian Gandrung, dan setiap rumah adat yang berdiri kokoh adalah saksi keteguhan mereka dalam mempertahankan jati diri. Kemiren bukan sekadar desa adat, melainkan simbol kekuatan budaya Nusantara yang terus bersinar di mata dunia. (putri).
















