Media Kampung – 27 Maret 2026 | Tesla Model Y mencatat penjualan kumulatif 4 juta unit secara global, menandai tonggak penting bagi produsen mobil listrik asal Amerika.
Pencapaian ini terjadi setahun setelah model SUV crossover tersebut resmi diluncurkan di Asia Tenggara, memperluas jaringan penjualan di pasar Indonesia, Thailand, dan Malaysia.
Penjualan kuat Model Y didorong oleh kombinasi desain praktis, jarak tempuh baterai yang kompetitif, serta dukungan jaringan supercharger yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Data internal Tesla menunjukkan bahwa penjualan Model Y menyumbang lebih dari separuh volume penjualan total kendaraan listrik perusahaan pada kuartal terakhir 2025.
Keberhasilan tersebut memperkuat posisi Tesla sebagai pemimpin pasar EV global, sekaligus menambah tekanan pada produsen lokal dan asing yang berusaha memperluas pangsa pasar.
Di sisi lain, produsen asal China, XPeng, mencatat pertumbuhan penjualan yang spektakuler pada tahun 2025, dengan total pengiriman 429.449 unit, naik 126 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laju pertumbuhan XPeng didorong oleh popularitas model Mona M03 dan P7+, serta peluncuran produksi massal model X9 yang menampilkan teknologi dual-energy.
XPeng berhasil mencatat laba bersih kuartalan pertama pada kuartal keempat 2025, dengan nilai melampaui RMB 380 juta, menandai peralihan dari fase investasi ke profitabilitas.
CEO XPeng, He Xiaopeng, menyatakan bahwa fokus perusahaan pada pengembangan AI fisik dan sistem mengemudi otonom menjadi kunci keberhasilan teknis dan komersial.
Peningkatan ekspor XPeng ke pasar luar negeri mencapai 45.000 unit, menyumbang lebih dari 15 persen total pendapatan, menandakan penerimaan positif di luar China.
Kedua perusahaan kini bersaing dalam arena inovasi, dengan Tesla mengandalkan jaringan pengisian cepat dan software over‑the‑air, sementara XPeng menekankan integrasi chip AI buatan sendiri.
Persaingan ini berdampak pada kebijakan pemerintah di kawasan Asia Tenggara, yang semakin mempercepat program insentif kendaraan listrik untuk mendukung adopsi massal.
Pemerintah Indonesia, misalnya, menargetkan penjualan EV mencapai 2,5 juta unit pada 2030, dengan fokus pada model yang memiliki infrastruktur pengisian yang memadai.
Di Thailand, insentif pajak dan subsidi baterai telah menarik produsen asing untuk membuka pabrik perakitan, termasuk fasilitas perakitan Model Y yang beroperasi sejak 2024.
Sementara itu, XPeng berencana membuka pusat perakitan pertama di Vietnam pada akhir 2026, sebagai langkah memperluas jangkauan produksi di kawasan ASEAN.
Analisis pasar menunjukkan bahwa total penjualan EV di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh lebih dari 30 persen per tahun hingga 2028, didorong oleh kebijakan hijau dan peningkatan daya beli konsumen.
Kombinasi faktor regulasi, infrastruktur, dan inovasi teknologi diharapkan mempercepat adopsi model SUV listrik seperti Model Y dan X9, yang menawarkan ruang kabin luas dan efisiensi energi.
Investor melihat kedua perusahaan sebagai peluang pertumbuhan, dengan saham Tesla tetap menjadi salah satu yang paling likuid, sedangkan XPeng mencatat peningkatan kapitalisasi pasar setelah laporan 2025.
Meskipun persaingan semakin ketat, Tesla menegaskan komitmennya untuk meningkatkan produksi Model Y di pabrik Fremont dan Gigafactory Berlin, serta memperluas kapasitas di Gigafactory Shanghai.
Pencapaian 4 juta unit Model Y dan lonjakan penjualan XPeng menegaskan bahwa pasar kendaraan listrik telah memasuki fase kedewasaan, dengan pertumbuhan berkelanjutan di wilayah Asia dan global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan