Media Kampung – 17 Maret 2026 | Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang kembali menjadi sorotan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pada Selasa, 17 Maret 2024, yang merupakan hari keempat sebelum Lebaran, sejumlah pengendara melaporkan harus menunggu lebih dari enam jam untuk menyeberang ke Bali. Kondisi ini menandai pergeseran pola kemacetan dari pelabuhan tradisional di Gilimanuk, Jawa Barat, ke pelabuhan lintas selat Bali yang terletak di ujung timur Pulau Jawa.

Kondisi Antrean di Pelabuhan Ketapang

Pihak pelabuhan mencatat bahwa antrian kendaraan meluas hingga keluar area parkir utama. Beberapa saksi mengatakan barisan mobil bahkan menembus batas fasilitas, memaksa petugas mengatur ulang alur masuk. Waktu tunggu yang dilaporkan mencapai enam jam, dengan jarak tempuh mobil yang hanya bergerak beberapa puluh meter selama periode itu.

Pengalaman Penumpang

Salah satu pengendara, Mika, menyatakan ia tiba di loket pada pukul 06.00 WIB. “Saya sudah lewat loket jam enam pagi, namun hingga siang belum dapat naik kapal,” ujar ia. Mika menambahkan bahwa mobilnya hanya bergerak kurang dari 50 meter selama menunggu. Ia menargetkan perjalanan ke Seminyak, Bali, dan menilai bahwa situasi ini belum pernah ia alami pada musim mudik maupun sebelum perayaan Nyepi.

Keluhan serupa datang dari Merry, yang berangkat bersama keluarga pada pukul 05.30 WIB. Ia melaporkan bahwa pada pukul 12.00 WIB masih belum mendapatkan giliran. “Mobil kami berjalan tidak sampai lima meter, kemudian berhenti kembali, dan terus berulang,” kata Merry. Ia mengkhawatirkan kenyamanan anak‑anaknya yang harus berada dalam kondisi terdiam selama berjam‑jam.

Faktor Penyebab dan Dampak

Tanpa pernyataan resmi dari otoritas pelabuhan atau operator penyeberangan, penyebab utama antrean panjang masih menjadi spekulasi. Para pengamat mengidentifikasi beberapa faktor potensial, antara lain peningkatan volume penumpang menjelang Lebaran, keterbatasan jadwal kapal feri, serta penyesuaian operasi setelah masa pembatasan Covid‑19. Selain itu, perubahan kebijakan penyeberangan terkait protokol kesehatan dapat menambah waktu proses di loket.

Akumulasi faktor‑faktor tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian waktu bagi pengendara, tetapi juga berdampak pada sektor pariwisata dan logistik di kedua pulau. Penundaan penumpang mengurangi tingkat okupansi kapal, sementara pedagang dan penyedia layanan di sekitar pelabuhan kehilangan pendapatan yang biasanya meningkat pada periode libur panjang.

Tanggapan Pihak Berwenang

Hingga saat artikel ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari Pengelola Pelabuhan Ketapang maupun perusahaan operator feri mengenai akar masalah. Sumber internal menyebutkan bahwa pihak berwenang sedang melakukan evaluasi kapasitas armada dan kemungkinan penambahan jadwal tambahan untuk mengurangi kepadatan. Pengendara diimbau untuk memantau informasi resmi dan mempertimbangkan alternatif rute atau jadwal keberangkatan.

Secara keseluruhan, antrean panjang di Pelabuhan Ketapang menegaskan perlunya koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, operator transportasi laut, dan penyedia layanan pendukung. Tanpa langkah strategis, tekanan pada infrastruktur pelabuhan dapat berulang setiap kali periode mudik atau perayaan besar tiba.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.