Media Kampung – 22 Maret 2026 | Watford menahan Leicester City hingga akhir laga, menghasilkan seri 0-0 di Vicarage Road.

Kedua tim gagal memecah kebuntuan meski menyerang secara bergantian sepanjang 90 menit.

Penalty pada menit ke-40 menjadi momen krusial, namun Egil Selvik menepisnya tepat ke tiang.

Penalty Daka itu rendah dan akurat, namun keeper Watford melompat ke kanan dan menempatkannya di tiang.

Kesempatan pertama dari permainan terbuka muncul pada menit ke-52, namun tembakan Stephy Mavididi tidak cukup keras.

Leicester mengandalkan kecepatan pemain sayap, namun serangan mereka tidak menemukan celah di pertahanan Watford.

Watford menumpulkan peluang lewat dribbling Giorgi Chakvetadze, yang hampir menciptakan tembakan berbahaya.

Dua kartu kuning diberikan kepada Jordan James dan Abdul Fatawu karena mencoba menghentikan aksi Chakvetadze.

Di babak kedua, Daka gagal menyempurnakan peluang, menanduk bola silang Bobby De Cordova-Reid dari jarak lima meter.

Pengganti Leicester, Divine Mukasa, menembak langsung ke arah Selvik, menambah tekanan pada gawang tuan rumah.

Watford baru membuka tembakan tepat pada gawang pada menit ke-78 melalui Nestory Irankunda, namun masih belum memecah kebuntuan.

Luca Kjerrumgaard juga mencoba, namun kiper Leicester Jakub Stolarczyk berhasil menangkisnya.

Kejadian aneh terjadi ketika wasit Josh Smith menghilang ke terowongan selama hampir lima menit tanpa memberi instruksi.

Ia kembali dengan peralatan komunikasi baru, namun sorakan penonton tetap terdengar setelah kepergiannya.

Ed Still, pelatih Watford, mengakui timnya terasa lemah dan belum memiliki kebugaran optimal dibandingkan Leicester.

“Kami tidak bermain dengan kekuatan penuh, banyak pemain yang masih merasakan rasa sakit,” ujar Still.

Still menambahkan bahwa Chakvetadze bermain meski masih mengalami kekakuan, namun ia menghargai keberaniannya.

Ia juga menyatakan rasa hormatnya kepada Gary Rowett, menekankan perbedaan pengalaman di antara keduanya.

Gary Rowett, manajer Leicester, menilai timnya kurang mengeksekusi peluang, terutama pada penalty yang terlewat.

“Jika kita menciptakan peluang jelas, kita harus mengubahnya menjadi gol,” kata Rowett setelah pertandingan.

Rowett menegaskan bahwa meskipun puas dengan penampilan, kekurangan insting pembunuh membuat mereka terjebak di tiga terbawah.

Statistik menunjukkan Leicester hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran, sementara Watford mencatat dua tembakan ke arah gawang.

Kedua tim berjuang untuk mengamankan poin penting menjelang akhir musim, dengan Watford masih mengejar tempat playoff.

Sementara itu, Leicester berusaha keluar dari zona degradasi, namun seri ini tidak cukup untuk mengubah posisi mereka.

Kedua pelatih menekankan pentingnya konsistensi dalam pertandingan-pertandingan berikutnya untuk mencapai target masing-masing.

Penampilan penyerang Leicester, Patson Daka, tetap menjadi sorotan meski ia gagal mencetak gol di pertandingan ini.

Penilaian pemain Leicester menempatkan tiga pemain dengan nilai 8/10, menandakan kontribusi positif meski hasilnya nihil.

Bagi Watford, kesempatan mencetak gol masih terasa jauh, terutama setelah menahan serangan Leicester selama hampir seluruh waktu.

Kedua tim harus memperbaiki kreativitas serangan dan memanfaatkan peluang set‑piece lebih efektif pada laga selanjutnya.

Pertandingan berakhir tanpa gol, menambah tekanan pada kedua klub untuk menghasilkan hasil lebih baik di sisa musim.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.