Media Kampung – 27 Maret 2026 | Mohamed Salah akan mengakhiri masa baktinya di Liverpool pada akhir musim 2025/2026 setelah sembilan tahun berkiprah di Anfield. Kepergian sang penyerang asal Mesir ini menandai akhir salah satu kisah sukses paling ikonik dalam sepak bola Inggris.
Sepanjang 435 penampilan, Salah mencetak 255 gol, termasuk menjadi pemain Afrika pertama yang menembus 50 gol di Liga Champions. Statistik itu menjadikannya legenda klub sekaligus ikon global.
Pengumuman resmi datang lewat video singkat yang diunggah Salah di media sosial, diikuti pernyataan klub di situs resmi. Video tersebut ditonton lebih dari 31 juta kali dalam dua hari.
Di balik keputusan itu, terdapat negosiasi intens antara perwakilan pemain, Ramy Abbas, dan manajemen Liverpool yang dipimpin Richard Hughes. Kedua belah pihak sepakat mengakhiri perpanjangan kontrak dua tahun yang baru ditandatangani pada April lalu.
Kesepakatan tersebut menjadikan Salah bebas pindah pada musim panas tanpa biaya transfer, meskipun ia tetap menjadi pemain dengan gaji tertinggi klub, sekitar £400.000 per minggu. Pilihan itu dianggap “logis” oleh sumber dekat klub.
Kepergian Salah diperkirakan akan memicu spekulasi tentang tujuan berikutnya, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi. Beberapa nama telah disebut, namun belum ada kepastian.
Di sisi lain, Jürgen Klopp, pelatih Liverpool, menegaskan dukungannya kepada pemain meski ada rumor minat klub lain seperti Juventus atau Tottenham. “Saya selalu yakin dengan Mo, terlepas dari tawaran lain,” kata Klopp dalam wawancara dengan BBC Sport.
Klopp juga mengingat momen emosional ketika Salah menyerahkan tendangan penalti kepada Roberto Firmino pada kemenangan 5‑1 melawan Arsenal pada Desember 2018. “Saya hampir menangis karena saya tahu betapa besar keinginan Mo untuk mencetak gol,” ujarnya.
Tindakan itu dianggap sebagai contoh kemurahan hati yang jarang terlihat pada penyerang top. Firmino akhirnya mencetak hat-trick, menambah nilai kebersamaan di dalam tim.
Namun, sikap Salah kadang menjadi sorotan negatif, terutama setelah kritik dari mantan pemain dan pengamat. Gary Neville menilai Salah kurang suka memberi umpan, menyebutnya “lebih egois” dibandingkan rekan setimnya, Sadio Mané.
Neville menambahkan, “Mané disukai pemain, ia selalu memberikan yang terbaik untuk tim, sedangkan Mo kadang lebih fokus pada menyelesaikan peluangnya sendiri.” Pernyataan itu memicu perdebatan di kalangan fans.
Arsène Wenger sebelumnya menyoroti kebutuhan Salah untuk meniru konsistensi Lionel Messi dalam menciptakan peluang bagi rekan. “Dia penembak yang hebat, tetapi Messi juga memberikan bola terakhir,” ujar Wenger dalam wawancara dengan beIN Sports.
Kritik tersebut tidak mengurangi rasa hormat klub terhadap kontribusi Salah. Selama sembilan musim, ia membantu Liverpool meraih dua gelar Liga Premier, satu Piala FA, dan satu Liga Champions.
Musim ini, performa Salah menurun, terutama setelah insiden di Leeds United pada Desember lalu, di mana ia mengungkapkan ketegangan dengan pelatih baru, Jürgen Klopp. Hubungan mereka sempat memanas, namun kemudian berdamai.
Kepulangan Salah ke timnas Mesir untuk Piala Afrika dan Piala Dunia menambah jadwal padat, namun ia tetap tampil di Liga Premier hingga akhir musim. Keberadaannya tetap penting dalam pertempuran melawan Manchester City di Piala FA dan Paris Saint‑Germain di Liga Champions.
Klopp menekankan bahwa keputusan Salah keluar bukan karena kurangnya motivasi, melainkan pertimbangan profesional dan keuangan. “Kami menghargai kontribusinya dan akan memberikan perpisahan yang layak di Anfield,” katanya.
Para pendukung Liverpool diprediksi akan menyaksikan perpisahan emosional di Stadion Anfield pada Mei, dengan prosesi khusus di Kop. Salah diperkirakan akan menyalakan lampu sorot dan menerima penghargaan klub.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa kepindahan Salah ke liga lain dapat meningkatkan eksposur sepak bola Afrika, mengingat popularitasnya yang tinggi. Namun, faktor usia (34 tahun) dan beban gaji menjadi pertimbangan utama klub potensial.
Sementara itu, Liverpool sudah menyiapkan skema suksesi dengan mengandalkan pemain muda seperti Darwin Núñez dan Cody Gakpo, yang diharapkan mengisi kekosongan di lini serang. Manajemen berharap transisi berlangsung mulus tanpa kehilangan daya serang.
Dengan kepergian Salah, era baru bagi Liverpool dimulai, namun warisan gol, rekor, dan momen-momen ikoniknya akan terus dikenang. Klub dan suporter akan menutup bab ini dengan rasa hormat dan harapan untuk kesuksesan selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan