Media Kampung – 24 Maret 2026 | Orleans Masters 2026 berakhir dengan dominasi pemain Prancis pada kategori tunggal putra, menyisakan dua wakil Indonesia di antara delapan finalis.

Turnamen yang diselenggarakan di Salle Pierre de Coubertin, Orleans, menyuguhkan level kompetisi tinggi dengan total hadiah USD 250.000, menarik atlet papan atas dunia.

Delapan pemain yang berhasil melaju ke babak perempat final meliputi tiga orang Prancis, dua wakil Jepang, satu wakil Korea, serta dua pemain Indonesia.

Di sisi Indonesia, Haris Raymond dan Fajar Joaquin masuk sebagai harapan utama setelah menembus putaran ketiga dengan kemenangan meyakinkan.

Namun kedua pemain tersebut tersingkir pada perempat final setelah bertemu dengan unggulan Prancis, Jean-Marc Dupont dan Lucien Moreau, masing-masing dengan skor 21-17, 21-14.

Kekalahan Raymond terjadi pada set pertama setelah serangan servis yang kuat dari Dupont, sementara Joaquin gagal menahan serangan net play Moreau.

Kedua atlet Indonesia tetap menunjukkan kualitas dengan rata‑rata persentase kemenangan servis di atas 80 persen, menandakan potensi besar untuk turnamen mendatang.

Sisa dua wakil Indonesia, yaitu Siti Nanda Putri dan Riko Prasetyo, kini menjadi satu‑satunya harapan negara untuk menembus final di babak semifinal.

Siti Nanda, yang menjuarai kejuaraan Asia tahun lalu, berhasil mengalahkan pemain Jepang dalam tiga set ketat, memperlihatkan ketahanan mental tinggi.

Riko Prasetyo, yang baru naik peringkat dunia ke posisi 15, menampilkan permainan agresif di lapangan belakang, mengatasi lawan Korea dengan skor 21-19, 22-20.

Pelatih tim nasional Indonesia, Dedi Suharto, menilai performa tim secara keseluruhan positif, meski menyesal kehilangan Raymond dan Joaquin pada tahap kritis.

‘Kami melihat perkembangan yang bagus, terutama dalam teknik servis dan pertahanan, namun konsistensi di level tertinggi masih menjadi tantangan,’ ujar Suharto setelah konferensi pers.

Pihak penyelenggara mengonfirmasi bahwa peringkat dunia akan mengalami perubahan signifikan setelah hasil Orleans Masters, dengan tiga pemain Prancis menembus lima besar.

Keberhasilan Prancis ini diproyeksikan meningkatkan popularitas bulu tangkis di Eropa, terutama di kalangan pemuda, sejalan dengan program pengembangan yang dicanangkan pemerintah.

Dengan dua pemain Indonesia masih bersaing, harapan besar menanti pada turnamen berikutnya, dimana mereka berupaya mengubah hasil menjadi podium.

Turnamen Orleans Masters pertama kali digelar pada 2015, dan sejak itu menjadi salah satu ajang BWF World Tour 1000 yang paling ditunggu, menampilkan partisipasi atlet dari lebih 30 negara.

Penyelenggaraan tahun ini mencatat rekor kunjungan penonton, dengan lebih dari 12.000 penonton hadir selama lima hari kompetisi, menunjukkan meningkatnya minat publik di Prancis.

Selain kompetisi utama, acara tersebut juga menyertakan klinik pelatihan bagi anak‑anak sekolah setempat, dipandu oleh pelatih internasional, sebagai bagian dari upaya sosial komunitas.

BWF menegaskan bahwa standar kebersihan dan protokol kesehatan tetap diterapkan, meskipun tidak ada lagi pembatasan terkait pandemi, untuk menjamin keamanan semua pihak.

Keberhasilan pemain Prancis menambah tekanan pada federasi bulu tangkis Indonesia untuk memperkuat program pembinaan, terutama dalam menyiapkan generasi berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.