Media Kampung – 21 Maret 2026 | Moh. Zaki Ubaidillah, pemain muda tim nasional bulu tangkis, merayakan Idul Fitri 1447 H di luar negeri pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Ia berada di Orleans, Prancis, menyusul partisipasi tim Merah-Putih dalam ajang Super 300 Orleans Masters.
Turnamen tersebut bertepatan dengan hari raya, sehingga Ubaidillah tidak dapat pulang ke Indonesia untuk berkumpul bersama keluarga.
Ia menyampaikan alasan tersebut kepada orangtua lewat video call dan mendapat dukungan penuh dari mereka.
Menurut Ubaidillah, keluarga tidak menolak keputusannya karena ia menekankan pentingnya menambah peringkat dan pengalaman kompetitif.
Ia menambahkan, “Saya akan tetap terhubung lewat video call, meski tidak dapat hadir secara fisik.”
Ubaidillah mengaku paling merindukan momen makan bersama di rumah pada saat Lebaran.
Rasa kebersamaan saat sahur dan buka puasa bersama keluarga menjadi kenangan yang ia rindukan.
Ia juga mengingat kembali Lebaran pertama yang terlewat saat pandemi COVID-19, ketika ia berada di Kudus.
Pada kesempatan itu, ia tidak dapat berkumpul dengan keluarga karena pembatasan sosial.
Kali ini, meski berada di luar negeri, ia tetap berusaha merayakan dengan skuad Merah-Putih yang juga berpuasa.
Rekan-rekannya membantu menciptakan suasana kekeluargaan di asrama tim selama libur Idul Fitri.
Ubaidillah bercanda bahwa kali ini justru ia yang memberikan THR kepada saudara-saudara di rumah.
“Tidak ada THR untuk saya, malah saya yang memberi,” ujarnya sambil tertawa.
Ia menjelaskan bahwa sebagian uang tunjangan pertandingan ia kirimkan kepada adik-adik di Indonesia.
Situasi ini menyoroti beban jadwal kompetisi yang padat bagi atlet bulu tangkis Indonesia.
PBSI menyiapkan tim yang harus mengikuti rangkaian turnamen internasional sejak awal tahun.
Komitmen tersebut bertujuan meningkatkan peringkat dunia dan mengamankan tempat di kejuaraan bergengsi.
Namun, kepadatan agenda sering membuat atlet harus melewatkan perayaan penting bersama keluarga.
Para pemain biasanya mengatur perjalanan pulang setelah turnamen selesai, namun kalender internasional kini lebih ketat.
Kondisi serupa juga dialami pemain lain yang berkompetisi di Asia dan Eropa pada bulan Ramadan.
Para pelatih menegaskan pentingnya keseimbangan antara performa kompetitif dan kesejahteraan mental.
Mereka menyarankan dukungan keluarga melalui teknologi sebagai alternatif bila kehadiran fisik tidak memungkinkan.
Ubaidillah menilai dukungan emosional dari orangtua sangat membantu menjaga fokus di lapangan.
Ia berharap kebijakan penjadwalan ke depan dapat mempertimbangkan momen keagamaan penting.
Sementara itu, prestasinya di Orleans Masters akan menjadi batu loncatan untuk meraih peringkat lebih tinggi.
Jika berhasil menembus babak akhir, ia berpotensi meningkatkan posisi Indonesia di papan peringkat BWF.
Secara keseluruhan, perayaan Lebaran di luar negeri menjadi pengalaman unik sekaligus tantangan bagi Ubaidillah.
Ia menutup dengan harapan dapat kembali bersama keluarga pada Lebaran berikutnya dan terus mengharumkan nama Indonesia di turnamen internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan